Minggu, 29 Mei 2011

Obrolan di telepon


Siang ini ada obrolan lumayan panjang dengan mas, dari sekian lamanya dan panjangnya ada satu yang terngiang di telinga saya. Mas cerita bayaran seorang MC di acaranya tadi mencapai belasan juta. Saya sok2 ga kaget, saya jawab saja, wajarlah mas mc kan yang dibayar penampilannya, kamu itunglah berapa biaya buat perawatan dirinya juga.
Sepertinya saya punya jawaban lebih lengkap mas.

Sepiring nasi sisa di wastafel
Saya mencuci piring sore ini dan saya punya jawaban lain mas. Sering saya dengar cerita kalau gaji petani tidak seberapa, apalagi semuanya tergantung panen jadinya pendapatan tidak stabil tetapi saya rasa juga gajinya tidak akan mencapai belasan juta sekali menanam padi. Lihat saja mas tumpukan piring di wastafel, sisa nasinya masih begitu banyak. Orang sudah menganggap nasi barang murah, ambil saja makan yang banyak, kalo sisa juga tidak apa dibuang toh ruginya tidak sampai belasan juta. Saat orang menganggap sesuatu menjadi barang yang biasa maka nilainya menjadi begitu rendah. Kita tidak pernah memikirkan pendapatan petani yang ‘angin-angin’-an. Dan memang hanya segitu kita menghargai sepiring sisa nasi di wastafel.

Guru yang juga jadi pemulung
dulu saya pernah lihat ada seorang guru/kepala sekolah yang jadi pemulung juga. Katanya sih gajinya hanya sekitar 500ribu an saat itu mas. Sekarang mari kita lihat, seorang MC bisa begitu hebatnya bicara kesana kemari cerita ini itu mustahil ga pernah mencicipi bangku sekolah. Lalu siapa yang telah mencetak MC seharga belasan juta rupiah kalau bukan karena guru? Disini seorang bisa dilihat betapa kreatifnya seorang guru, gaji yang kurang mencukupi bukan berarti mereka menyerah untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ada nilai yang tidak bisa diukur dengan uang yaitu naluri dan keikhlasan. Coba kalau guru tiba-tiba minta gaji belasan juta sekali mengajar, bisa ketawa sampai gila orang-orang mendengar permintaannya.
‘hormat saya untuk para guru, dosen, ayah, dan kakak saya untuk mata hatinya’

Seratus puyer untuk Lisa (Bukan nama sebenarnya)
Saat praktek profesi apoteker di apotek ada seorang anak yang menebus resep sekian ratus puyer karena penyakitnya (jantung kalo tidak salah). Tahukah berapa service yang diberikan untuk ratusan puyer yang kami buat, tanggung jawab kalau ada kesalahan interaksi obat dll yang ada kaitannya dengan obat? Cukup sekitar 450 saja. 1000 masih kembali 550. Kami tidak minta belasan juta untuk kesembuhan seorang anak, karena Tuhan yang menyembuhkan. Kami hanya makhluk-Nya yang diberi sedikit kemampuan dan tanggungjawab untuk berbagi secuil dari yang dipunya. Kami tidak perlu berdandan ala artis wah untuk bisa memberi dukungan dan semangat. Senyum dan kesembuhan menjadi keberhasilan tersendiri(walaupun tidak bisa dipungkiri hidup juga butuh uang)

Film Kentut
Pagi tadi saya melihat salah satu berita di TV bintang tamunya Dedy Mizwar. Ia menjadi produser film kentut, film komedi politik. Saat ditanya apakah ia tidak takut jika rugi karena genre film tersebut jarang muncul di masyarakat. Dengan entengnya dia menjawab, membuat film hanya untuk 2 hal untung atau mendapatkan yang lain. Yang lain adalah pahala, saat kita memberikan sesuatu yang menunjukkan orang untuk menjadi lebih baik tentu pahala akan kita dapatkan.

Sepertinya cerita2 tersebut sudah dapat mewakili mengapa bayaran seorang bisa sangat tinggi hanya dengan cuap-cuap sekian menit. 

 *ditulis saat mengisi waktu menunggu joging sore di GSP, men sana in corpore sano =D