Sabtu, 19 Mei 2012

Selalu ada yang Terlewatkan dari Sebuah Kemudahan


Sms, BBM, handphone, skype, yahoo messenger dan segala kemudahan komunikasi yang membunuh dimensi jarak sampai ribuan kilometer. Sadarkah teman? Ada pelukan yang ditunggu orangtua di ujung telepon. Ada suara yang rindu didengar di balik suara bing..bing atau apalah dari BBM. Ada juga raut rindu yang tersembunyi dari web cam dan pastinya ada cerita yang terlewatkan dari sebuah kemudahan.

Earphone, i pod, gadget pemutar musik lainnya memudahkan dalam memilih musik yang ‘hanya’ ingin kita dengar. Sebuah kemudahan yang terkadang menjadi sebuah keacuhan. Di kereta pemain musik mencoba membagi karyanya. Saya rasa bukan tentang berapa uang yang kita ‘lempar’ ke topi yang mereka ulurkan, sementara kita tetap asyik dengan suara musik dari earphone yang sengaja kita buat besar saat para pemusik itu bernyanyi. Mereka bukan pengemis kawan, hanya mencoba sharing. Lepaskan sejenak earphone, mereka bukan pengemis..mereka pemusik.

Motor dan mobil, sebuah kemudahan yang luar biasa apalagi dalam ketergesaan untuk menuju sebuah tempat. Teman, ada hangatnya matahari yang dapat kita rasakan setiap pagi jika kita mau bangun lebih pagi dan mencoba berjalan kaki. Ada sejuknya angin yang bukan dihasilkan dari AC dalam mobil. Ada sejuknya udara saat hujan rintik mampir sejenak. Ada perjalanan yang bisa kita nikmati sambil bercerita.
Google dan mesin pencari informasi lainnya, membuat kita dengan mudah mengerjakan tugas kuliah. Bahkan yang tidak mungkin dikerjakan dalam 1 atau 2 hari bisa selesai dalam 1 jam, ‘tinggal copy paste’ saja  lagi-lagi kita melewatkan sebuah bangunan luar biasa yang sebenarnya tidak kalah dengan google dan saudaranya. Hanya saja kemalasan membuat kita enggan melangkah ke tempat yang namanya perpustakaan. Buku-buku itu bukan fosil teman, mereka adalah dokumentasi ilmu pengetahuan, penjawab pertanyaan yang mondarmandir dalam benak kita, mereka adalah karya.

Teman, masih banyak yang lain. Ketika sebuah kemudahan disalahartikan. Ketika sebuah kemajuan teknologi dianggap dapat menggantikan segalanya, mematikan rasa kita. Saat semua orang berlomba meng up date teknologi terbaru yang mungkin hanya sekedar ‘ikut-ikutan’. Sebuah nilai kehidupan yang sepertinya remeh sekali bukan? Maka kalian abaikanlah semua yang kecil da remeh ini, tanpa disadari bahwa semua berawal dari hal yang kecil. Saat kita sering dengan mudah mengurai kata ‘gagap teknologi kamu’ padahal tanpa disadari ‘teknologi telah membuat kita gagap akan hidup’.  


Jadi, jemputlah matahari saat pagi, peluk dan temuilah orang yang lama tidak kalian temui, sisihkanlah waktu sedikit dari jam kumpul-kumpul di kafe sambil browsing dengan mencoba kembali ke tempat bernama ’perpustakaan’. Karena, kadang kemudahan membuat kita melewatkan banyak hal yang sebenarnya berarti.

Namanya Tulus


Ci,akhirnya setelah berhari-hari saya coba mencari apa pentingnya dan hebatnya sebuah tulus sepertinya mulai ada pencerahan.

Tulus adalah sebuah kejujuran bukan ci? Ketika kamu lihat dia melakukan kesalahan maka kamu bilang dia salah tanpa takut melukai perasaanya karena kamu hanya ingin dia menjadi lebih baik. Tulus itu bukan topeng atau ‘make up’ yang menutupi wajah kita dari sebuah kealamian.

Tulus bukanlah sebuah trend, bukan begitu ci? Tidak tergantung sedang modelnya perempuan bergaya korea, model jilbab yang syalalala. Sedang model seperti apapun tulus itu akan selalu hadir. Tidak seperti mode yang tidak konsisten, sepantasnya ketulusan selalu ada dalam masing-masing diri kita.

Tulus bukanlah hal yang membuat kita menjadi tidak nyaman, bukan begitu ci? Tidak perlu berdandan cantik untuk dapat tulus. Tidak perlu bergaya feminim agar orang bisa merasakan kertulusan. Karena disitu kuncinya, ketulusan bukan dilihat tapi dirasa.

Tulus bukanlah hal yang mudah hilang, bukan begitu ci? Kecantikan wajah dapat memudar seiring umur, kalaupun ada itu hanyalah manipulasi alat-alat atau produk kecantikan yang menutupi kerut wajah. Kekayaan hanyalah sementara, ketika ada tangan Tuhan mengambil kembali milik-Nya manusia tidak punya kemampuan melawannya. Maka ketika manusia mengingat seseorang karena kekayaan dan kecantikan maka nasibnya hanya akan seperti itu, seiring waktu akan hilang, mereka layaknya variabel dependen dengan waktu sebagai variabel independennya sedangkan ketulusan terhadap seseorang akan selalu mengena.

Tulus adalah hal yang sulit dicari saat ini, bukan begitu ci? Saya tahu sekarang kenapa bisa begitu ci, karena akumulasi hal-hal di atas. Kita sendiri yang membuat tulus menjadi hal yang tidak bernilai. Ketika saat ini yang dianggap bernilai adalah yang tampak, yang nyata, yang visible.
Terimakasih ci membuat saya berfikir cukup lama, akhirnya saya dapat jawabannya.


*Dedicated to Yenny Prasaja, sebuah obrolan saat jalan kaki perpus pusat-stasiun pondok Cina