Sebenarnya saya bingung hendak menyampaikan ini kepada siapa, mengingat siapa saya yang suaranya akan didengar. Maka saya putuskan membuat surat terbuka saja, bukan bermaksud provokasi tetapi saya harap ada suara teman-teman yang memiliki pemikiran lebih jernih untuk meredam pikiran yang terlalu berontak ini.
Sebuah kekecewaan atas perjalanan bolak-balik yang menghabiskan waktu hingga kurang lebih 4 jam dengan tujuan menuntut ilmu tetapi yang saya temui kelas yang kosong, dengan AC yang sangat dingin entah untuk mendinginkan siapa dan muka melongo teman-teman yang sama-sama heran karena ternyata kuliah KOSONG.
Awalnya saya maklum, satu kali dua kali hingga puncaknya hampir mid semester masih ada saja dosen yang baru memberi kuliah satu kali dan embel-embel tidak kuliah karena rapat atau sibuk.
Aneh ya, ketika jadwal begitu apiknya tercantum di portal akademik yang sebegitu canggihnya membuat orang berdecak kagum dengan semua yang sepertinya tertata apik, ternyata itu semua hanya pemanis sebuah sistem. Ingat betul saya dulu kuliah jadwal harus fotokopi sendiri di TU serba manual, tapi yang jelas kertas-kertas yang saya fotokopi itu tidak memberi janji palsu.
Bilang saja ada rapat maka semua masalah akan beres, kuliah ditiadakan karena rapat satu kali dua kali dan akhirnya berkali-kali. Baru paham saya ternyata buat orang-orang di kota besar ini, esensi tenaga pendidikan adalah rapat bukan mengajar. Semacam orang DPR yang rapat, jadi janganlah suka protes yang bilang kerjaan DPR rapat terus, tidak jadi orang DPR saja rapat terus.
Saya sibuk ada kerjaan lain, jadi konsultan, ketemu pengusaha obat, yang jelas bukan jualan pulsa karena untungnya sedikit dan tidak memakan waktu. Bukan begitu?Pa, kasian saya dengan nasib para dosen seperti ini, mereka bilang mungkin mana bisa hidup dari gaji sebagai dosen. Bohong itu semua, perkenalkanlah bapak saya, usia 56 tahun, tulang punggung keluaga, istri seorang ibu rumah tangga, 4 anak 2 anaknya sedang disekolahkan S2 bisa dia hidup dari mengajar. Menjadi dosen adalah sebuah pilihan, pilihan untuk pengabdian bukan pilihan untuk meraup uang atau cari gengsi. Katanya mereka malu masa jadi dosen ga naik mobil, bapak saya malah naik motor bahkan di usianya yang lanjut, sekalinya naik mobil ya naik angkot dan bus, sama seperti yang lain berdesak-desakan dan bau keringat.
Sungguh saya sangat berharap ketika para pengajar yang telah sekolah bertahun-tahun di luar negeri, yang katanya suasana belajarnya sangat disiplin, tepat waktu, dan tenaga pengajar yang sangat membantu maka ketika mereka kembali ke Indonesia ada banyak sikap baik yang akan mereka tiru dan tularkan kepada kami. Sayangnya, beasiswa yang mereka dapat mungkin hanya dimanfaatkan untuk meraih gelar atau posisi yang lebih dihargai. Sampai Indonesia mereka cetaklah prototype individu yang suka datang telat, suka membatalkan janji, tidak disiplin.
Well perlu saya ingatkan, saya sangat respect dengan dosen2 ketika saya kuliah sarjana dan profesi karena mereka mengerti apa itu PRIORITAS. Mereka tidak malu naik becak, naik motor, atau bahkan jalan kaki. Sebuah nilai kesederhanaan yang patut ditiru sebagai contoh tenaga pendidik. Mereka buat aturan yang membuat mahasiswanya dan dirinya sendiri disiplin. Ingatlah pak bu, kalian adalah panutan, bukan hanya ilmu tetapi juga bersikap.
Mereka bilang ini kuliah S2, saya bilang ini bukan kuliah S2 (jika terus seperti ini)tetapi semacam cara meraih gelar S2 entah itu dengan atau tanpa kuliah. This is it, potret pendidikan Indonesia, ketika sebuah pendidikan menjadi business oriented.
Bagaimanapun ini sudah jadi pilihan saya, kamu, dan kita sekarang tinggal bagaimana menjadikan diri bukan sebagai korban sebuah sistem tapi ikut mengambil kendali dari sistem tersebut.