Kamis, 27 Januari 2011

Pojok Nasi Langgi

6 jam yang melelahkan di kampus, hanya menunggu sebuah kepastian tanggal keberangkatan saya dan kawan ke sutomo. Lagi-lagi birokrasi dan uang menjadi masalah utama, bosan saya dengan segudang sistem yang mempersulit, padahal hidup di tanpa sistem saja sudah sulit. Setengah 5 waktu jam casio saya, hmm sepertinya akan pulang malam lagi, tak apalah saya menikmati waktu saya bekerja dan beraktifitas, daripada terlalu banyak hibernasi. Saya putuskan untuk mampir ke kos Fira, salah satu dari sahabat terbaik yang pernah saya kenal. Iseng saya ingin mendinginkan fisik dan hati saya yang terasa panas sekalian makan malam bersama 2 sahabat terbaik saya yang lainnya Nia dan Erna.

Pojok nasi  langgi menjadi tempat pilihan kami. Hanya sebuah tempat lesehan dengan harga makanan dengan harga 500-1500. Bukan rumah makan yang besar dengan deretan kursi-kursi angkuhnya, hanya beralaskan tikar yang membuat kita merasa nyaman. Bukan deretan menu ala eropa, hanya makanan yang membuat saya selalu merindukan kota Yogya. Ditemani es jeruk dan nasi kucing kami melepas cerita. Lama kami tidak berkumpul, untuk sekedar bercerita. Bukan, bukan cerita tentang mata kuliah, bukan cerita tentang ujian, bukan cerita tentang bagaimana menjadi anak populer di kampus, kami hanya bercerita tentang hakikat hidup. Hakikat hidup bahwa kami butuh tertawa lepas. Tertawa lepas layaknya anak kecil yang belum mengenl kepalsuan. Tanpa kita sadari kedewasaan seiring sejalan dengan kemampuan untuk memalsukan, bahkan hal sepele pun dipalsukan, yaitu tertawa.


30 menit kami bercerita, hal yang cenderung sepele mungkin, itu juga sebabnya anak kecil dapat tertawa lepas karena mereka membicarakan hal sepele. Tertawa suatu cara untuk melepaskan kepenatan. Saya memang letih dengan segala aktivitas akhir2 ini tetapi saya butuh tertawa lepas bukan istirahat 2 hari penuh, bukan menyendiri  dan menikmati kesendirian. Tertawa bukan untuk menghina. Tertawa tanpa mengernyitkan kening. Tertawa bukan karena ikut-ikutan. 


Ah, saya akan sangat rindu suasana ini. Seperti kata nia, lama ga ngerasain tertawa lepas. Benar teman, parah sekali kondisi sosial ini bahkan untuk tertawa lepas pun kita tidak bisa. Sepertinya lama2 negeri ini akan membuka banyak lowongan pekerjaan bagi ahli jiwa karena manusia tidak bisa melepaskan tawa. Lama-lama kita harus mengeluarkan uang untuk sekedar bisa melepaskan tawa, tawa yang lepas. 

Kamar Yogya, ditemani Lets Go Reunian The Groove

Jumat, 14 Januari 2011

Goresan Purna Part 1 (sedikit pelajaran farmasi di luar kuliah)

Perjalanan semalam dari surabaya semalam bersama Ana membuat saya kembali mengingat masa-masa di purna budaya. Posko pengungsian penuh pelajaran. Obrolan saya semalam dengan ana membuat saya kembali ingin bercerita, hanya sebuah selayang pandang. Sedikit berbagi tentang ilmu terutama ilmu farmasi yang tidak semua teman mungkin bisa mendapatkannya.


Teman, ternyata mengatur stok obat tidak semudah analisis pareto atau VEN dkk tapi tenang saja kita masih memakai yang namanya slow moving atau fast moving. Dengan uang 5 juta kami dihadapkan dengan kebutuhan pengungsi dan ribuan produk obat yang harus kami pilih di pasaran(sedikit berlebihan, hehe).  Kebetulan tanggungjawab saya salah satunya adalah menjamin stok obat di purna, atau bahasa mudahnya menjamin kalo ada pengungsi minta OTC obatnya ada, kalo dokter menulis resep obatnya juga ada, sebisa mungkin menghindari kata tidak punya (manajemen betul,, ;D ). Untuk membuat slow moving atau fast moving saya tidak dapat mengandalkan hitungan kalkulator atau rumus2 yang dijejali selama kuliah. Maaf kawan, ujian akhir atau ruwetnya rumus yang kita pakai akhirnya pada kehidupan nyata tidak banyak dipakai. Yang terpenting adalah insisiatif dan kemampuan menganalisis keadaan. Untuk 1-2 hari saya sering kena marah Mba Isni (tetuanya tim medis) karena 2 hari pertama analisis saya sering meleset. Jelas dia lebih handal, pekerjaan dia di rumah sakit membuat dia lebih terlatih. Namun, hari2 berikutnya saya mulai ahli memahami pola nya, sedkit sombong ya??hehe.

 rapat alot(foto dari fb mba achi)

 Menentukan obat-obat slow moving atau fast moving yang akurat harus didukung sistem atau pencatatan yang baik. Kenapa seperti itu? Karena awalnya saya belum membuat sistem bahwa tiap shift harus dengan teratur mencatat pengeluaran dan pemasukan baran baik OTC maupun obat resep, seringkali barang yang keluar tidak dicatat. Hasilnya barang yang tertulis ada ternyata tidak ada dan itu berpengaruh pada hasil kita menentukan slow moving atau fast moving. Kalau sistemnya sudah terbentuk tinggal cara menjalankannya yang harus benar, jangan dikira mencatat barang keluar masuk pekerjaan yang mudah sehingga disepelekan. Masalah yang paling sering terjadi adalah ketika jam sibuk, resep yang masuk terlalu banyak ditambah orang yang meminta OTC juga banyak akhirnya pencatatan obat OTC yang keluar sering terlupa, simpel tapi ketika yang terlupa untuk dicatat 20 item obat dengan merek sama tentunya hasilnya akan berbeda signifikan antara catatan dan kenyataan. Be careful buat yang 1 ini kawan ;)

 obat minimalis (this foto taken by mas lexi)

Nah, sekarang tinggal bagaimana mengatur agar yang slow moving akhirnya bisa dipergunakan juga oleh pengungsi biar ga jadi stok mati(bener ga ya istilahnya stok mati). Seringkali mereka terlalu terikat pada brand (ya kita tau bagaimana melekatnya brand pada suatu produk..susah pindah ke lain hati)disini cara kita komunikasi dan mengatur pengeluaran barang benar2 diuji. Mengganti kayu putih merek c**la** dengan merek K***c**e ternyata tidak mudah, walaupun isinya sama2 minyak kayu putih. Kalo ini caranya ya temen2 musti belajar sendiri namanya juga komunikasi, ga punya rumus, mesti langsung praktek.
Ya kurang lebih itu cerita singkat dari purna tentang obat slow moving dan lawannya..sebenarnya yang kaitannya dengan manajemen banyak. Saran saya, ambillah resiko orang yang ga maju orang yang ga pernah mau ngambil resiko dan sesuatu yang menantang ;) trust me it works (iklan banget).