6 jam yang melelahkan di kampus, hanya menunggu sebuah kepastian tanggal keberangkatan saya dan kawan ke sutomo. Lagi-lagi birokrasi dan uang menjadi masalah utama, bosan saya dengan segudang sistem yang mempersulit, padahal hidup di tanpa sistem saja sudah sulit. Setengah 5 waktu jam casio saya, hmm sepertinya akan pulang malam lagi, tak apalah saya menikmati waktu saya bekerja dan beraktifitas, daripada terlalu banyak hibernasi. Saya putuskan untuk mampir ke kos Fira, salah satu dari sahabat terbaik yang pernah saya kenal. Iseng saya ingin mendinginkan fisik dan hati saya yang terasa panas sekalian makan malam bersama 2 sahabat terbaik saya yang lainnya Nia dan Erna.
Pojok nasi langgi menjadi tempat pilihan kami. Hanya sebuah tempat lesehan dengan harga makanan dengan harga 500-1500. Bukan rumah makan yang besar dengan deretan kursi-kursi angkuhnya, hanya beralaskan tikar yang membuat kita merasa nyaman. Bukan deretan menu ala eropa, hanya makanan yang membuat saya selalu merindukan kota Yogya. Ditemani es jeruk dan nasi kucing kami melepas cerita. Lama kami tidak berkumpul, untuk sekedar bercerita. Bukan, bukan cerita tentang mata kuliah, bukan cerita tentang ujian, bukan cerita tentang bagaimana menjadi anak populer di kampus, kami hanya bercerita tentang hakikat hidup. Hakikat hidup bahwa kami butuh tertawa lepas. Tertawa lepas layaknya anak kecil yang belum mengenl kepalsuan. Tanpa kita sadari kedewasaan seiring sejalan dengan kemampuan untuk memalsukan, bahkan hal sepele pun dipalsukan, yaitu tertawa.
30 menit kami bercerita, hal yang cenderung sepele mungkin, itu juga sebabnya anak kecil dapat tertawa lepas karena mereka membicarakan hal sepele. Tertawa suatu cara untuk melepaskan kepenatan. Saya memang letih dengan segala aktivitas akhir2 ini tetapi saya butuh tertawa lepas bukan istirahat 2 hari penuh, bukan menyendiri dan menikmati kesendirian. Tertawa bukan untuk menghina. Tertawa tanpa mengernyitkan kening. Tertawa bukan karena ikut-ikutan.
Ah, saya akan sangat rindu suasana ini. Seperti kata nia, lama ga ngerasain tertawa lepas. Benar teman, parah sekali kondisi sosial ini bahkan untuk tertawa lepas pun kita tidak bisa. Sepertinya lama2 negeri ini akan membuka banyak lowongan pekerjaan bagi ahli jiwa karena manusia tidak bisa melepaskan tawa. Lama-lama kita harus mengeluarkan uang untuk sekedar bisa melepaskan tawa, tawa yang lepas.
Kamar Yogya, ditemani Lets Go Reunian The Groove
Tidak ada komentar:
Posting Komentar