Sabtu, 05 November 2011

Yang Terlupakan


Mas X dan Mbak Y, bekerja di sebuah instansi pemerintah, sering ke luar kota, bekerja kadang sampai sabtu, gajinya cukup (cukup untuk beli rumah, beli motor, beli semua yang diinginkan) tapi mereka sering mengeluh entah di jejaring sosial atau rekannya bahwa mereka lelah kerja senin-sabtu. Belum lihat mereka seperti apa ayah saya, mbak mas, ayah saya bekerja senin-minggu, full time lho, saat pulang rumah ayah tidak bisa langsung istirahat, seringkali mahasiswa datang untuk bimbingan skripsi, mencari bahan untuk mengajar karena hukumnya bahwa dosen harus lebih tau.hehe. Gajinya cukup (cukup untuk makan dan sekolah anaknya). Tapi ayah tidak pernah mengeluh capek kerja senin-minggu. Buat ayah pekerjaannya sangat menyenangkan walaupun gajinya tidak sebesar mas X dan mbak Y.


Anak S lahir dari ayah dan ibu yang bisa dibilang terlalu cukup. Hidup sehat selama mengandung, bahkan sering mengikuti anjuran dokter seperti makan seafood agar anak pintar. Nyatanya saat lahir dan beranjak dewasa anak S didiagnosa mengidap autis. Anak M lahir dari sepasang orangtua yang cukup (entahlah setelah ada bencana di kota Y), jangankan mau ingat makan seafood, saat-saat melahirkan saja harus tinggal di pengungsian, tapi Alhamdulillah anaknya sampai sekarang sehat.


Bapak X, koruptor yang kaya raya katanya sih sering beramal juga  seperti memberi sumbangan untuk mesjid tapi jarang shalat di mesjid yang disumbang itu. Mungkin kalau ada jasa untuk menggantikan dia beramal dia pakai juga jasa itu, buat menggantikan dia shalat wajib, untung-untung shalat duha juga biar pintu rizkinya kian terbuka lebar maklum kalau rapat sering ga sempat shalat. Bapak C seorang merbot (biasa bersih-bersih mushala dan jaga kebersihan mesjid, dia juga yang sering azan mengingatkan orang-orang yang sok amnesia terhadap Tuhan) kerja di pabrik juga gajinya bisa lah buat makan sehari-hari, yang jelas halal tanpa korupsi, jangankan inget korupsi milyaran mau bawa kabur barang dari pabrik yang nilainya Cuma sekian ribu saja dia merasa dosa seluruh alam ditanggungnya karena ia tahu mencuri besar atau kecil adalah sesuatu yang haram. Suatu saat mereka berdua pasti kembali ke sang Maha Pemilik. Saya percaya bahwa Tuhan tidak dapat disuap dengan uang karena seluruh alam ini milik-Nya, maka Ia tidak perlu uang.

“Adalah kenyataan bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan, surga dan garis kehidupan yang ditulis oleh Tuhan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar