Ci,akhirnya setelah berhari-hari saya coba mencari apa pentingnya dan hebatnya sebuah tulus sepertinya mulai ada pencerahan.
Tulus adalah sebuah kejujuran bukan ci? Ketika kamu lihat dia melakukan kesalahan maka kamu bilang dia salah tanpa takut melukai perasaanya karena kamu hanya ingin dia menjadi lebih baik. Tulus itu bukan topeng atau ‘make up’ yang menutupi wajah kita dari sebuah kealamian.
Tulus bukanlah sebuah trend, bukan begitu ci? Tidak tergantung sedang modelnya perempuan bergaya korea, model jilbab yang syalalala. Sedang model seperti apapun tulus itu akan selalu hadir. Tidak seperti mode yang tidak konsisten, sepantasnya ketulusan selalu ada dalam masing-masing diri kita.
Tulus bukanlah hal yang membuat kita menjadi tidak nyaman, bukan begitu ci? Tidak perlu berdandan cantik untuk dapat tulus. Tidak perlu bergaya feminim agar orang bisa merasakan kertulusan. Karena disitu kuncinya, ketulusan bukan dilihat tapi dirasa.
Tulus bukanlah hal yang mudah hilang, bukan begitu ci? Kecantikan wajah dapat memudar seiring umur, kalaupun ada itu hanyalah manipulasi alat-alat atau produk kecantikan yang menutupi kerut wajah. Kekayaan hanyalah sementara, ketika ada tangan Tuhan mengambil kembali milik-Nya manusia tidak punya kemampuan melawannya. Maka ketika manusia mengingat seseorang karena kekayaan dan kecantikan maka nasibnya hanya akan seperti itu, seiring waktu akan hilang, mereka layaknya variabel dependen dengan waktu sebagai variabel independennya sedangkan ketulusan terhadap seseorang akan selalu mengena.
Tulus adalah hal yang sulit dicari saat ini, bukan begitu ci? Saya tahu sekarang kenapa bisa begitu ci, karena akumulasi hal-hal di atas. Kita sendiri yang membuat tulus menjadi hal yang tidak bernilai. Ketika saat ini yang dianggap bernilai adalah yang tampak, yang nyata, yang visible.
Terimakasih ci membuat saya berfikir cukup lama, akhirnya saya dapat jawabannya.
*Dedicated to Yenny Prasaja, sebuah obrolan saat jalan kaki perpus pusat-stasiun pondok Cina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar