Rabu, 17 Oktober 2012

Selingan Di Balik Peristiwa Gangguan Sinyal KA Jak-Boo


Sudah setahun ini saya menggantungkan diri dengan menggunakan jasa dari PT KAI untuk berangkat kuliah atau sekedar jalan-jalan. Dalam seminggu saya bisa 5-7x menggunakan alat trasnportasi ini karena memang lokasi kuliah saya yang berpindah-pindah tapi mudah dijangkau dengan kereta (UI Depo, RS Cipto Mangunkusumo, atau Kemenkes RI). Beberapa kali saya terselamatkan dari kejadian aneh-anehnya Commuter Line (kecelakaan atau demo karyawan PT KAI) tapi ternyata memang keberuntungan tidak bisa terus menerus terjadi.

Tepatnya kemarin, hari itu saya pergi kuliah ke RSCM (Departemen Neurologi dan Obsgyn FKUI RSCM) saya berangkat dari rumah sekitar jam5.20 pagi (bangun dari sekitar jam 3.30 pagi) dan seharusnya jika sesuai jadwal dan lama perjalanan mestinya saya sudah sampai Bogor lagi sekitar jam 5 sore. Ternyata tidak untuk hari spesial kemarin itu?

Saya naik kereta khusus wanita jam 15.05 dari stasiun Cikini menuju Bogor, di Stasiun Universitas Pancasila (kalau tidak salah) petugas langsung memberitahu bahwa kereta hanya sampai Depok Baru karena ada pohon tumbang yang mengenai sambungan atas listrik sehingga mengganggu persinyalan di daerah antara stasiun Citayam dan Depok Lama, tidak tahu sampai kapan gangguan ini bisa diatasi. Semua kereta hanya bisa sampai Depok Lama begitupun kereta dari Bogor. Langsung penumpang kereta yang isinya perempuan semua itu ribut. Saya pun bingung karena saya belum pernah sama sekali menggunakan transportasi selain kereta dari arah stasiun Depok Baru hingga Bogor.  Saya sms mas cerita soal ini dia malah telepon dan tahu apa yang dia bilang di telepon “tanya mama naik angkutan apa, ati-ati di jalan ya”. Hemm silakan pembaca komen sendiri soal kelakuan si mas. Untungnya saya bisa selamat sampai rumah sekitar jam6 sore dengan naik bus Depok Sukabumi dan kemudian ganti angkutan kecil lain.
Banyak hal yang menarik buat saya hari itu

Jaga Mulutmu karena mulut mencerminkan pribadi dan kecerdasanmu

Di stasiun UI ada 3 orang mahasiswi yang naik dan ketika ada pemberitahuan soal kereta yang gangguan dia bilang kurang lebih seperti ini “apa-apaan ini, tiket kereta naik jadi 9ribu tapi pelayanan kayak sampah” seorang ibu di depan saya tersenyum dan saya tertunduk malu. Dan saya masih berharap besar bahwa yang mengucapkan itu bukanlah mahasiswi di tempat saya sekarang ini melanjutkan kuliah Magister Farmasi saya.
Tentunya kalian tahu apa itu konotasi sampah, sesuatu yang sudah tidak berguna dan dibuang. Jika kalian memang merasa kereta ini sampah mengapa kalian masih saja menggunakannya?
Gangguan sinyal ini diakibatkan proses alam, seharusnya anda berfikir bahwa penyebab langsungnya adalah pohon tumbang, protes saja pada pohon tumbang, lalu anda akan dikira gila J
Saya masih menyimpan harapan besar bahwa PT KAI menaikkan tiket kereta untuk sebuah upaya  menuju yang lebih baik. Perbaikan yang sedang dilakukan mungkin memang perlahan-lahan. Kalau anda ingin membandingkan keretaapi di Jepang silakan, tapi jangan lupa bandingkan harganya dengan yang di Indonesia. Nanti, kalau PT KAI menaikkan harga tiket seperti disana (mungkin dengan fasilitas yang sama dengan disana)masyarakat sendiri juga yang akan protes, pasti bilangnya katanya alat trnsportasi umum tapi kok harganya ga umum. Nah lho, susah kan jadi&menghadapi orang Indonesia ;)

Biasakan Menyediakan Alternatif
Bukan berarti saya mendukung sepenuhnya PT KAI atas kejadian kemarin. Alangkah baiknya ada jalan keluar selain menelantarkan penumpang dengan menenangkan bahwa sedang dalam perbaikan atau sekedar mengembalikan uang tiket. Karena bukan hanya uang yang dirugikan tapi juga soal waktu dan ketidakjelasan. Mungkin dengan menyediakan angkutan umum (bis, angkot) untuk mengantar penumpang ini sampai stasiun Bogor sehingga setidaknya kami merasa bahwa PT KAI juga sudah mempersiapkan alternatif jika kereta tidak berjalan normal. Kalau seperti ini kan kesannya PT KAI tidak pernah memikirkan bagaimana jika kondisinya tidak berjalan sesuai yang seharusnya.

Jangan terlalu berharap pada orang lain di situasi genting
Kenapa? Karena mungkin anda berfikir bahwa anda tidak dapat menemukan jalan keluarnya tapi orang lain berfikir anda bisa. Seperti yang terjadi saat saya berharap mas menawarkan untuk menjemput tapi nyatanya dia hanya bilang hati-hati J Nyatanya saya pun masih bisa pulang tapi dengan hati agak dongkol, bukan dongkol pada PT KAI tapi malah jadi sama si mas. Lagi-lagi saya merasa mas tidak khawatir atau kurang perhatian dengan saya. Saya harus berfikir logis juga, bukan mas tidak perhatian/khawatir tapi saya rasa mas percaya saya bisa pulang sendiri tanpa  ditolong. Memang kalau berhadapan dengan si mas saya harus menyeimbangkan sisi kewanitaan dan kemaskulinan (hahaha) menyeimbangkan antara perasaan dan logika.  Sebenarnya saya juga yakin saya bisa tapi seperti biasa perempuan serungkali inigin melihat sampai dimana perhatian atau pengorbanan laki-laki. Anggaplah pengorbanan untuk menjemput sepertinya terlalu kecil maka mas menunggu untuk ada kesempatan memberi perhatian yang lebih besar dari sekedar menjemput saya yang terlantar di stasiun (positive thinking)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar