Rabu, 29 Juni 2011

Kenapa Saya Harus Bersyukur (Sindiran untuk Diri Saya Sendiri)


Ujian sebentar lagi(Selesai)..

4 Minggu menjalani ujian bukan hal yang mudah, mengulang ujian demi mengubah 7 nilai B menjadi A. Ah betapa sombongnya saya, betapa tidak bersyukurnya saya, jika mau ujian ya sudah ujian saja tidak usah pakai marah-marah ketika melihat nilai teman A kok bisa A atau karena dosen kok pelit banget ngasih nilai A. Mama dan Papa yang kembali mengingatkan saya, mereka tidak pernah menilai saya dari deretan huruf yang saya cetak di dalam transkrip. Kelak nilai itu justru membuat saya gila karena harus mati-matian belajar. Setidaknya mama mengingatkan, kalau semua nilai kamu A dapatkah kamu pertanggungjawabkan?bukan pada mama/papa tapi pada lingkungan sosial dan pada Tuhan. Jangan lupa semua hidup ini berujung pada pertanggungjawaban. Setidaknya mama papa tahu kamu menjalani semua proses itu belajar, berdoa, dan jujur. Apapun huruf yang tercetak, disana ada campur tangan Tuhan.

Teman-teman saya (Fira, Erna, Nia,dll)

Saya sebut tiga dulu karena 5 tahun mereka yang benar-benar ada di dekat saya, tahu masalah-masalah saya. 5 tahun, setidaknya mereka bukan orang-orang munafik yang berteman karena deretan huruf di transkrip, naik apa kamu ke kampus, pake hp model apa, bukan juga yang suka berkumpul untuk bergosip ngomongin orang saja (walaupun kadang-kadang nggosip juga). Terakhir kami berbicara betapa banyak perempuan yang mencoba ‘mengoreksi’ ciptaan Tuhan nyatanya saat mereka menikah yang dilihat pria bukan fisik, maka ingatlah kecantikan dan kekayaan bisa diambil oleh Tuhan tetapi Tuhan tak mungkin mengambil keimanan. Ya, semoga kami dicintai oleh orang-orang yang bertanggungjawab dan dicintai karena iman.

Orang-orang ‘tegas’ di sekitar saya

Entah kenapa 6 bulan ini dari tempat praktek di RS, pembimbing apotek, sampai dosen penguji kompre pun dapet yang ‘wah’. Saat ini saya mulai bisa menghadapinya bukan dengan muka stres lagi. Tuhan benar-benar baik pada saya, sepertinya Tuhan ingin membuat saya menjadi orang yang jauh lebih kuat lagi, kelak saya lulus mungkin saya akan terus menemukan orang-orang seperti mereka maka saya akan terbiasa dengan kondisi-kondisi seperti ini. Tuhan lihatlah saya akan menghadapi semua ini dengan senyuman agar saya bisa mendapat nilai A dariMu =)

Unit Kesehatan Mahasiswa UGM

oh thanks God, ruangan kecil di pojokan gelanggang ini membuat saya orang yang benar-benar jauh berbeda. Menghargai uang karena saya tahu sendiri susahnya mencari uang dari menjual baju bekas sampai koran dan plastik. Menghargai hidup, bolak-balik saya mengunjungi kedokteran forensik saat pelantikan DD 23 melihat keluarga yang menangis melihat jenazah saudaranya. Selagi masih hidup tidak boleh ada kata berhenti yang boleh hanya kata istirahat. Berhenti adalah kata yang diucapkan ketika waktu kita di dunia sudah habis.

Dan masih banyak nikmat lain yang harusnya saya syukuri..maafkan saya Tuhan telah lalai 

Eyang Mul memang sedang terbaring dengan selang-selang di tubuhnya tapi sbeleum masuk ICU eyang mul pernah bilang “Hidup jujur” dan saya Cuma mengangguk sambil senyum-senyum. 

Sudah saatnya saya kembali mengingatkan lisan saya untuk mengucap Alhamdulillah. Alhamdulillah hi robbil alamin.

Minggu, 29 Mei 2011

Obrolan di telepon


Siang ini ada obrolan lumayan panjang dengan mas, dari sekian lamanya dan panjangnya ada satu yang terngiang di telinga saya. Mas cerita bayaran seorang MC di acaranya tadi mencapai belasan juta. Saya sok2 ga kaget, saya jawab saja, wajarlah mas mc kan yang dibayar penampilannya, kamu itunglah berapa biaya buat perawatan dirinya juga.
Sepertinya saya punya jawaban lebih lengkap mas.

Sepiring nasi sisa di wastafel
Saya mencuci piring sore ini dan saya punya jawaban lain mas. Sering saya dengar cerita kalau gaji petani tidak seberapa, apalagi semuanya tergantung panen jadinya pendapatan tidak stabil tetapi saya rasa juga gajinya tidak akan mencapai belasan juta sekali menanam padi. Lihat saja mas tumpukan piring di wastafel, sisa nasinya masih begitu banyak. Orang sudah menganggap nasi barang murah, ambil saja makan yang banyak, kalo sisa juga tidak apa dibuang toh ruginya tidak sampai belasan juta. Saat orang menganggap sesuatu menjadi barang yang biasa maka nilainya menjadi begitu rendah. Kita tidak pernah memikirkan pendapatan petani yang ‘angin-angin’-an. Dan memang hanya segitu kita menghargai sepiring sisa nasi di wastafel.

Guru yang juga jadi pemulung
dulu saya pernah lihat ada seorang guru/kepala sekolah yang jadi pemulung juga. Katanya sih gajinya hanya sekitar 500ribu an saat itu mas. Sekarang mari kita lihat, seorang MC bisa begitu hebatnya bicara kesana kemari cerita ini itu mustahil ga pernah mencicipi bangku sekolah. Lalu siapa yang telah mencetak MC seharga belasan juta rupiah kalau bukan karena guru? Disini seorang bisa dilihat betapa kreatifnya seorang guru, gaji yang kurang mencukupi bukan berarti mereka menyerah untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ada nilai yang tidak bisa diukur dengan uang yaitu naluri dan keikhlasan. Coba kalau guru tiba-tiba minta gaji belasan juta sekali mengajar, bisa ketawa sampai gila orang-orang mendengar permintaannya.
‘hormat saya untuk para guru, dosen, ayah, dan kakak saya untuk mata hatinya’

Seratus puyer untuk Lisa (Bukan nama sebenarnya)
Saat praktek profesi apoteker di apotek ada seorang anak yang menebus resep sekian ratus puyer karena penyakitnya (jantung kalo tidak salah). Tahukah berapa service yang diberikan untuk ratusan puyer yang kami buat, tanggung jawab kalau ada kesalahan interaksi obat dll yang ada kaitannya dengan obat? Cukup sekitar 450 saja. 1000 masih kembali 550. Kami tidak minta belasan juta untuk kesembuhan seorang anak, karena Tuhan yang menyembuhkan. Kami hanya makhluk-Nya yang diberi sedikit kemampuan dan tanggungjawab untuk berbagi secuil dari yang dipunya. Kami tidak perlu berdandan ala artis wah untuk bisa memberi dukungan dan semangat. Senyum dan kesembuhan menjadi keberhasilan tersendiri(walaupun tidak bisa dipungkiri hidup juga butuh uang)

Film Kentut
Pagi tadi saya melihat salah satu berita di TV bintang tamunya Dedy Mizwar. Ia menjadi produser film kentut, film komedi politik. Saat ditanya apakah ia tidak takut jika rugi karena genre film tersebut jarang muncul di masyarakat. Dengan entengnya dia menjawab, membuat film hanya untuk 2 hal untung atau mendapatkan yang lain. Yang lain adalah pahala, saat kita memberikan sesuatu yang menunjukkan orang untuk menjadi lebih baik tentu pahala akan kita dapatkan.

Sepertinya cerita2 tersebut sudah dapat mewakili mengapa bayaran seorang bisa sangat tinggi hanya dengan cuap-cuap sekian menit. 

 *ditulis saat mengisi waktu menunggu joging sore di GSP, men sana in corpore sano =D

Jumat, 15 April 2011

Can Did




biasanya nagihin duit..tapi kalo malem udah lemes mau nagihin duit
meski letih tetap tertawa kawann..lelah letih hanya bagian kecil dari perjalanan
senangnya saya bisa mendapat pose putu saat seperti ini *benar2 candid hehe
tulisan2 ini menjadi catatan perjalanan kita kawan, kelak kita akan banyak belajar dari sini
sampe di kelas pun bisa tidur, memanfaatkan waktu kalo malem ga bisa tidur, saat ga ada dosen mari tidur
masih aja ada yang sadar kamera ;)
saya dan jul ga sempat mencatat dengan tangan mau ga mau difoto saja =D

meski sibuk ngerjain tugas..sms an tetep ga bisa ditinggal..hehe.mari disantap bakpianyaa




Bagaimanapun foto hanya menjadi bagian kecil dari catatan yang ada di langit dan bumi.
Terimakasih kawan atas 2 bulan lebih perjalanan yang menyenangkan..
Saat saya datang dengan 2 koper bawaan, saya akan kembali dengan ilmu yang telah kalian bagikan
Kelak asa kalian sudah tercapai, tetaplah berlari mengejar asa yang lain
Saya percaya kita semua terlahir untuk sukses, sukses di bidangnya masing-masing
Teman, terimakasih atas tawa yang kalian lepaskan bersama
Kelak, jangan lupa
Bu Adit pernah bilang, jangan pernah bilang usaha kami memang cuma sampe di sini atau ya sudah,, 
teruslah berusaha, tidak boleh ada kata tidak bisa , teruslah merasa tertantang

Kelak saya akan rindu suasana ini..
Kelak saya akan menyadari
Ketika sering dibentak oleh bu Nun atau Bu Endang, ini hanya sebuah latihan kecil untuk menjadi orang yang lebih kuat
Ketika harus tidur hanya 2-3 jam,ini hanya contoh bagian dari pelayanan pasien yang mungkin tidak mengenal waktu
Ketika banyak tumpukan tugas yang membuat pesimis untuk dapat mengerjakannya ternyata akhirnya kita bisa menyelesaikannya

Untuk mendapatkan sesuatu yang berkesan memang selalu butuh pengorbanan..entah itu waktu, perasaan, atau pikiran
Terimakasih untuk para apoteker dan kelompok yang membuat saya percaya bahwa setiap orang sebenarnya mampu melawan keterbatasan, keterbatasan yang sebenarnya hanya sebuah ketakutan

menjelang kepulangan saya
kembali ke yogyakarta
mencari koper ilmu lainnya yang masih belum terbuka

.



































Minggu, 27 Maret 2011

Ini maksud saya jarak dan jeda


Terimakasih untuk setiap jarak dan jeda..
Saya tahu kamu ajarkan saya bukan untuk dimanja tapi untuk jadi dewasa..
Dewasa tutur katanya, dewasa sikapnya
Bukan menjadi wanita yang dihargai hanya dengan rangkaian bunga, status mesra, dan kata-kata cinta yang sebenarnya tidak ada maknanya

Saya Cuma bisa buat puisi sepanjang itu. Maafkan saya, bukan karena otak saya tidak mampu tapi sepertinya hati saya memang tidak terbiasa untuk bikin deretan kata indah tapi sebenarnya maknanya tidak ada, tidak bisa bikin kata-kata lebay

Tidak perlu setiap malam minggu jalan berdua, kamu sudah buktikan pada saya mau ke surabaya di tengah kesibukan. Saya yakin menemani saya malam minggu jauh lebih gampang daripada menemani saya di tengah kepenatan tugas saya di RSUD Soetomo. Maka saya ucapkan terimakasih pada jarak, karena jarak membuat saya yakin kamu mau melakukan sesuatu yang nampaknya sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Sibuklah kamu dengan tugas-tugas yang kamu sebut dengan pencitraan dan sibuklah saya dengan tumpukan kewajiban saya yang merupakan bagian dari pelayanan pasien. Maka terimakasih telah menciptakan jeda, karena memang kenyataannya dunia memang bukan milik berdua. Tak usah berkilah, memang ada saatnya ini bukan tentang saya dan kamu. Jeda membuat saya bisa bercerita tentang apa yang saya lakukan selama dunia ini tentang saya dan pekerjaan juga kamu dan pekerjaan. Ingat betul saya semangatnya saya cerita tentang Ramdhan.Seorang anak yang akan menjalani operasi, dia beri kissbye ke saya dan cium tangan saya.
Cobalah temukan kata2 mesra atau foto2 mesra kami berdua pada situs jejaring sosial, maka kamu tidak dapat menemukannya. Kalau itu karena saya memang kurang suka difoto =D Jalan-jalan berdua, makan bareng itu terlalu biasa untuk saya. Kamu antar saya pulang jam11 malam gara-gara musyawarah anggota ukesma itu punya arti buat saya. Sayangnya tidak mungkin kami foto2 sebelum dia antar saya pulang.

Kamu main pe es tiap malam minggu dan saya jalan2 dengan kawan2 saya(liat orang pacaran,hehe). Terimakasih sudah memberi jarak dan jeda, sehingga saya punya waktu untuk kumpul dengan teman-teman.

Saya yakinkan kamu, begitu juga kamu yakinkan saya, biarlah kita pasrah biar Tuhan yang jaga hati kita. Tidak usah terlalu optimis ataupun pesimis. Maka saya mencoba gunakan hati sesuai porsinya.

*Semoga akhirnya kamu paham apa maksud saya terimakasih untuk jarak dan jeda
 Surabaya
27-03-2011


Jumat, 11 Maret 2011

Ingat-Ingat Seperti Apa Papa..

Saya sadar jarang komunikasi terjalin dengan papa, justru ketika jarak semakin terlihat jelas dan tegas (Bogor-Surabaya)komunikasi kami menjadi lebih baik. Berbeda dengan mama, papa jarang berpesan macam-macam seperti mama. Bukan karena papa kurang perhatiaan tapi papa punya caranya sendiri untuk menyampaikan pesan-pesannya.

Papa ingin anak-anaknya tidak terbiasa mengucapkan kata-kata mengumpat, maka ia tidak pernah memarahi atau membentak kami. Apa yang terucap dari mulut menunjukkan seperti apa kalian.

Papa ingin anak-anaknya hidup sehat. Papa jarang sekali membelikan makanan junkfood. Kalaupun membawa itu pasti karena papa selesai menguji mahasiswanya. Sebagai gantinya saya hampir selalu menebak dengan benar isi kantong plastik yang biasa papa bawa, ada buah, roti, dan susu beruang/ ultra milk.

Papa ingin anak-anaknya mengenal Tuhan. Diajaknya kami ke pengajian. Dibelikannya kami buku-buku tentang agama. Ditunjukkannya bahwa bangun di malam hari meluangkan waktu untuk bercerita pada Tuhan tidaklah sulit.

Papa ingin anak-anaknya menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang takdir, hidup adalah doa dan kerja keras. Bekerjalah papa senin-minggu. Mengajar pagi sampai sore, di sela malam ia gunakan untuk menulis. Rezeki dapat berasal dari mana tapi pastinya harus halal, halal dan haram akan menentukan akan menjadi seperti apa kamu. Pantang bagi papa melakukan yang haram walaupun harus menjadi orang yang tidak disukai.

Papa ingin anaknya sekolah setinggi mungkin. Diyakinkannya kami bahwa biaya tidak boleh menjadi masalah untuk sekolah. Tidak pernah keluar dari mulutnya biaya sekolah kalian mahal. Salut untuk yang satu itu. Papa selalu ingin melanjutkan sekolah S3 nya itu yang saya tau.

Papa tidak ingin anaknya hidup dalam kemewahan. Diajarkannya kami untuk hidup sederhana. Kalaupun ada rezeki yang lain bukan berarti untuk hidup berlebihan tapi untuk orang-orang yang lebih ber hak. Diberikannya contoh pada kami sejak kecil, mengisi kotak ‘Anak Soleh’ (Kotak yang biasa kami isi uang recehan dan kemudian hasilnya diberikan pada anak yatim).Dan,  Tidak semua keinginan dan permintaan kami dikabulkan. Segala sesuatu yang dianggap berlebihan akan selalu ia tolak.

Papa ingin menunjukkan bahwa keluarga adalah prioritas utama. Di sela-sela kesibukannya senin-minggu selalu ada waktu untuk bercengkrama bersama atau kadang keluar bersama.

Papa tidak ingin memberika teori-teori tapi lihatlah seperti apa papa, makan kamu akan belajar banyak hal tanpa papa harus banyak bicara.

Dan yang pasti papa ingin menunjukkan pada anak-anaknya betapa papa mencintai kami. Maka ia kirimkan untaian doa di sepanjang harinya hanya untuk kami. Semoga kami selalu dalam lindungan-Nya.:)