Di tulisan kali ini ijinkan saya bercerita tentang saya, bukan tentang motivasi ala Mario Teguh (saya masih jauh laa dari Mario Teguh) tapi saya ingin cerita ala biografi tokoh2 besar (nasib bukan jadi orang terkenal, ga ada yang nulis cerita tentang saya)
Saya orang yang simple maka saya gampang dibuat senang dengan hal-hal yang tampak kecil
Universitas Pakuan
Ini menjadi tempat pilihan saya akhirnya untuk sok-sok sibuk ;) sebuah universitas milik yayasan siliwangi yang tidak begitu besar dibandingkan UGM. Sebuah universitas yang gedung farmasi nya kecil (lagi-lagi dibandingkan UGM), sebuah universitas yang farmasi nya baru baru berdiri tahun 2001, sebuah universitas yang mungkin menurut banyak orang jadi pilihan terakhir untuk kuliah, sebuah universitas yang katanya ga terkenal dan mungkin bermasalah (ga tau deh gosip dari mana). Di balik semua yang ber bau negatif entah kenapa saya menjadi terpacu dan jujur saya enjoy sekali berada disana. Saya dipersilahkan untuk datang hanya 3 kali dalam seminggu dan yang saya lakukan hanya jaga praktikum serta sit ini pada mata kuliah yang akan saya ampu kelak. Berarti saya masih punya hari-hari untuk menemani mama pergi belanja atau berobat, mengurus keponakan, belajar masak, menulis blog, dan mungkin menemani saudara untuk kemoterapi seperti saat-saat sebelum saya bekerja.
Salary
Jangan ditanya gaji saya berapa, karena teman-teman pasti kaget tapi cukup lah untuk ongkos makan dan menbung di celengan ayam. Dari awal saya mantapkan bahwa untuk saat ini orientasi saya bukanlah gaji. Ada teman kerja yang bahkan menawarkan saya untuk bekerja di RS dengan gaji yang lumayan tapi ini masalah passion, untuk saat ini jiwa saya masih di dunia pendidikan, saya tidak akan membunuh naluri saya dengan UANG. Buat saya bagrgaining power bukan hanya mengenai berapa gaji yang ditawarkan, tapi kesenangan pada pekerjaan, tidak mau saya digaji dengan uang banyak tapi syaratnya naluri dan cita-cita saya dibunuh
Sit in di Kelas
Salah satu hal yang sangat saya sukai. Setiap selasa saya sit in kelas farmakokinetik dan farmakologi yang diampu drh Mien Phd. Senang saya dapat berkomunikasi dengan banyak orang karena memang saya tidak suka pekerjaan yang berhadapan dengan benda mati seperti mesin. Yang membuat saya cukup kaget adalah apresiasi mahasiswa disana, boleh lah dibilang kalau universitas saya lebih bagus tapi saya rasa anak-anak di universitas ini lebih lancar bicara dan bertanya. Di kelas yang saya ikuti lebih dari 5 pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswanya dan semua yang diajukan adalah pertanyaan yang aplikatif, apa yang mereka temui mereka hubungkan dengan mata kuliah yang diberikan. Setidaknya saya rasa mereka lebih paham bahwa bagaimanapun ilmu pengetahuan hanya lah arah/petunjuk menjalani kehidupan bukan kondisi mutlak yang akan kita lihat di kehidupan. Itu yang sering kita salah artikan.
Beberapa kali saya ditanya, mahasiswa semester 4 teh? Kok ga pernah liat...saya hanya senyum-senyum sendiri dibayar berapa mereka untuk memuji saya..heeeeheee
Galau Lama Nian
untuk memantapkan hati bekerja disini butuh waktu galau sekitar 2 bulan yang akhirnya dimantapkan oleh papa dan si mas pacar. Kalau papa bilang, untuk seorang wanita, dosen atau guru adalah pekerjaan yang baik karena tidak menghabiskan banyak waktu, kelak berkeluarga kamu masih punya waktu untuk mengurus anak tapi sembari menjadi dosen cari kerja juga di tempat lain misal apotek yang penting jangan lupakan kewajiban kelak sebagai wanita jika berkeluarga. Kalau kata si pacar, saya kehilangan arah, semua kerjaan saya apply padahal itu bukan maunya saya, Si pacar juga takut kalau saya kerja bukan di tempat yang sifatnya pelayanan saya jadi money oriented, ketika kamu dijanjikan bonus dengan target pasar sekian maka kamu akan kerja mati-matian hanya untuk mengejar bonus. Bener juga sii..
Satu Fakta
Yang tidak akan saya tutupi adalah fakta bahwa saya dapat masuk di universitas ini papa yang mendukung juga. Saya memasukkan lamaran saat papa serah terima jabatan (lengser)dari KaProdi kimia universitas Pakuan tetapi papa bilang : Anak saya diterima bukan karena saya tapi karena nilai nya (ah papa, saya lebih suka dinilai dari kemampuan saya, nilai itu hanya huruf2 yang kadang mengaburkan kemampuan seseorang). Entah benar atau tidak saya memegang kata2 KaProdi Farmasi pada saya, Nisa saya terima jadi dosen pendamping disini karena sya lihat Nisa punya kemampuan dan yang pasti karena memang mengajar memang menjadi keinginan Nisa karena saat mengajar yang dibutuhkan adalah keterbiasaan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan memang keinginan hati.
Pa, tunggu ya suatu saat saya akan mengubah kata-kata ini “ooo ini Nisa yang anaknya pak Agus” menjadi “ooo ini pak Agus yang bapaknya Nisa” J. Ketika memang ada orang yang lebih kompeten untuk menggantikan saya, saya siap, sangat siap, karena saya sudah pernah merasakan bagaimana di’tendang’ dari sebuah tempat padahal memiliki kompetensi yang lebih baik, maka saya akan berusaha agar orang lain tidak merasakan apa yang pernah saya rasakan.