Rabu, 17 Oktober 2012

Selingan Di Balik Peristiwa Gangguan Sinyal KA Jak-Boo


Sudah setahun ini saya menggantungkan diri dengan menggunakan jasa dari PT KAI untuk berangkat kuliah atau sekedar jalan-jalan. Dalam seminggu saya bisa 5-7x menggunakan alat trasnportasi ini karena memang lokasi kuliah saya yang berpindah-pindah tapi mudah dijangkau dengan kereta (UI Depo, RS Cipto Mangunkusumo, atau Kemenkes RI). Beberapa kali saya terselamatkan dari kejadian aneh-anehnya Commuter Line (kecelakaan atau demo karyawan PT KAI) tapi ternyata memang keberuntungan tidak bisa terus menerus terjadi.

Tepatnya kemarin, hari itu saya pergi kuliah ke RSCM (Departemen Neurologi dan Obsgyn FKUI RSCM) saya berangkat dari rumah sekitar jam5.20 pagi (bangun dari sekitar jam 3.30 pagi) dan seharusnya jika sesuai jadwal dan lama perjalanan mestinya saya sudah sampai Bogor lagi sekitar jam 5 sore. Ternyata tidak untuk hari spesial kemarin itu?

Saya naik kereta khusus wanita jam 15.05 dari stasiun Cikini menuju Bogor, di Stasiun Universitas Pancasila (kalau tidak salah) petugas langsung memberitahu bahwa kereta hanya sampai Depok Baru karena ada pohon tumbang yang mengenai sambungan atas listrik sehingga mengganggu persinyalan di daerah antara stasiun Citayam dan Depok Lama, tidak tahu sampai kapan gangguan ini bisa diatasi. Semua kereta hanya bisa sampai Depok Lama begitupun kereta dari Bogor. Langsung penumpang kereta yang isinya perempuan semua itu ribut. Saya pun bingung karena saya belum pernah sama sekali menggunakan transportasi selain kereta dari arah stasiun Depok Baru hingga Bogor.  Saya sms mas cerita soal ini dia malah telepon dan tahu apa yang dia bilang di telepon “tanya mama naik angkutan apa, ati-ati di jalan ya”. Hemm silakan pembaca komen sendiri soal kelakuan si mas. Untungnya saya bisa selamat sampai rumah sekitar jam6 sore dengan naik bus Depok Sukabumi dan kemudian ganti angkutan kecil lain.
Banyak hal yang menarik buat saya hari itu

Jaga Mulutmu karena mulut mencerminkan pribadi dan kecerdasanmu

Di stasiun UI ada 3 orang mahasiswi yang naik dan ketika ada pemberitahuan soal kereta yang gangguan dia bilang kurang lebih seperti ini “apa-apaan ini, tiket kereta naik jadi 9ribu tapi pelayanan kayak sampah” seorang ibu di depan saya tersenyum dan saya tertunduk malu. Dan saya masih berharap besar bahwa yang mengucapkan itu bukanlah mahasiswi di tempat saya sekarang ini melanjutkan kuliah Magister Farmasi saya.
Tentunya kalian tahu apa itu konotasi sampah, sesuatu yang sudah tidak berguna dan dibuang. Jika kalian memang merasa kereta ini sampah mengapa kalian masih saja menggunakannya?
Gangguan sinyal ini diakibatkan proses alam, seharusnya anda berfikir bahwa penyebab langsungnya adalah pohon tumbang, protes saja pada pohon tumbang, lalu anda akan dikira gila J
Saya masih menyimpan harapan besar bahwa PT KAI menaikkan tiket kereta untuk sebuah upaya  menuju yang lebih baik. Perbaikan yang sedang dilakukan mungkin memang perlahan-lahan. Kalau anda ingin membandingkan keretaapi di Jepang silakan, tapi jangan lupa bandingkan harganya dengan yang di Indonesia. Nanti, kalau PT KAI menaikkan harga tiket seperti disana (mungkin dengan fasilitas yang sama dengan disana)masyarakat sendiri juga yang akan protes, pasti bilangnya katanya alat trnsportasi umum tapi kok harganya ga umum. Nah lho, susah kan jadi&menghadapi orang Indonesia ;)

Biasakan Menyediakan Alternatif
Bukan berarti saya mendukung sepenuhnya PT KAI atas kejadian kemarin. Alangkah baiknya ada jalan keluar selain menelantarkan penumpang dengan menenangkan bahwa sedang dalam perbaikan atau sekedar mengembalikan uang tiket. Karena bukan hanya uang yang dirugikan tapi juga soal waktu dan ketidakjelasan. Mungkin dengan menyediakan angkutan umum (bis, angkot) untuk mengantar penumpang ini sampai stasiun Bogor sehingga setidaknya kami merasa bahwa PT KAI juga sudah mempersiapkan alternatif jika kereta tidak berjalan normal. Kalau seperti ini kan kesannya PT KAI tidak pernah memikirkan bagaimana jika kondisinya tidak berjalan sesuai yang seharusnya.

Jangan terlalu berharap pada orang lain di situasi genting
Kenapa? Karena mungkin anda berfikir bahwa anda tidak dapat menemukan jalan keluarnya tapi orang lain berfikir anda bisa. Seperti yang terjadi saat saya berharap mas menawarkan untuk menjemput tapi nyatanya dia hanya bilang hati-hati J Nyatanya saya pun masih bisa pulang tapi dengan hati agak dongkol, bukan dongkol pada PT KAI tapi malah jadi sama si mas. Lagi-lagi saya merasa mas tidak khawatir atau kurang perhatian dengan saya. Saya harus berfikir logis juga, bukan mas tidak perhatian/khawatir tapi saya rasa mas percaya saya bisa pulang sendiri tanpa  ditolong. Memang kalau berhadapan dengan si mas saya harus menyeimbangkan sisi kewanitaan dan kemaskulinan (hahaha) menyeimbangkan antara perasaan dan logika.  Sebenarnya saya juga yakin saya bisa tapi seperti biasa perempuan serungkali inigin melihat sampai dimana perhatian atau pengorbanan laki-laki. Anggaplah pengorbanan untuk menjemput sepertinya terlalu kecil maka mas menunggu untuk ada kesempatan memberi perhatian yang lebih besar dari sekedar menjemput saya yang terlantar di stasiun (positive thinking)

Minggu, 14 Oktober 2012

Terimakasih ya


Lama juga saya ga nulis blog, banyak waktu saya yang habis di perjalanan Bogor-RSCM bikin saya jadi ga produktif nulis (walaupun Cuma sekedar iseng nulis).

Ok, hari ini saya memutuskan refreshing dari kegilaan aktivitas kuliah  dengan pergi ke rumah si mas (mas lebih suka nyebut rumah kami). Dari pagi Cuma leyeh2, makan bubur bareng (saya, mas, dan mas Aris) dan nunggu tukang tralis yang katanya mau dateng dari setelah dzuhur (saya kira sekitar jam 12an) baru datang saat azan ashar.

Sempat kami ngobrol hal-hal ga penting berdua (waktu mas Aris balik ke rumahnya yang tepat di sebelah rumah kami), ngobrol dari isi Whatsap an saya dengan Fira dan Nia (dari cerita tentang tulang rusuk sampai ceramah Mamah Dedeh), definisi cantik, sikap kamu yang cueknya super super luar biasa, dan banyak lagi yang lainnya.

Sampai tiba-tiba kamu nyeletuk eh tangan kamu tutupin itu (kebetulan saya pake kaos dobel jaket dan agak tersingkap bagian tanganya soalnya cari posisi nyaman ga bisa diem kaya kelereng), intinya dia mengingatkan lengan baju saya yang agak tersingkap agar segera ditutup katanya dia, dia ga mau saya memperlihatkan (sengaja atau tidak sengaja, bagian tubuh saya yang seharusnya ditutupi, walau hanya bagian lengan tangan ke orang lain). Kamu mungkin ga sadar, tapi saya merasa sangat dijaga, dan pertama kalinya ada pria yang bilang seperti itu ke saya.

Apa luar biasanya?
saya tarik kembali kalau saya pernah bilang kamu cuek terhadap saya
Salah besar bahwa saya bilang kamu cuek. Seharusnya saya tahu bahwa cuek itu adalah ketika para pria membiarkan wanita yang disayang (atau apapun namanya itu) menampakkan kecantikannya untuk konsumsi umum yang bukan hak nya. Seperti pakai hotpants ke tempat umum, atau yang memang agak susah buat dilakukan yaitu menutupi rambut. Pria justru merasa bangga memamerkan kecantikan pacarnya atau istrinya tanpa merasa risih bahwa itu semua dinikmati oleh banyak orang lain. Maafffff sebelumnya saya tidak ingin menyudutkan/komplain bagi yang tidak pakai jilbab atau pakaian muslim yang sesuai syariat, karena saya sendiri pun masih sering pakai jins. Berpakaian apapun itu sudah menjadi keputusan seseorang yang mestinya dihormati dan di cerita kali ini saya titik tekannya mengenai perhatian si mas.

Oh ya satu lagi yang saya sadari mengenai relatifnya sebuah kecantikan. Waktu kamu bilang cantik itu relatif banget jadi susah didefinisikan, kamu bisa bilang artis siapa cantik atau ada perempuan lain yang cantik dengan pakaian yang modis ala skarang (tau lah yang kaya apa, misal pakai dress yang banyak ventilasinya). Ya, mereka kamu bilang cantik dan kamu menikmatinya tapi ya sudah Cuma sampai disitu. Ketika kamu dengan saya, kamu tidak ingin saya menjadi cantik yang umum (cantik yang bisa dinikmati semua orang dengan cara yang tidak sewajarmya) cantik yang seadanya, adanya celana pendek ya pakai celana pendek, adanya rok mini ya pakai rok mini.

Menjadi cantiklah dengan bijak J

Terimakasih untuk hari ini

Hampir jam 10 malam dan kamu masih dalam perjalanan menuju kosan Benhil. Take Care Ya J

Selasa, 10 Juli 2012

Perang Rokok: Bisnis atau Kesehatan (Sebuah Tanggapan dari Diskusi Indonesia Lawyer Club)


Malam ini agak gemes saya melihat Indonesia Lawyer Club.

Mereka pro rokok, mereka bilang orang Indonesia cukup toleransi untuk tidak merokok di tempat umum.

Yang bilang itu om pengacara. Dengan percaya diri tentunya (karena sikap seorang pengacara pakemnya seperti itu), dia bilang saya tidak pernah merokok di depan anak saya atau keluarga saya, bahkan di tempat yang tidak ada larangan merokoknyapun seperti di tempat ini (ruangan diskusi ILC malam ini) saya buktinya juga tidak merokok. Om, dengan sangat rendah hati saya bertanya. Seringkah pasti jawabannya tidak, mungkin lebih tepatnya pernahkah om naik bis kota atau angkot? Yang om rasakan selalu dinginnya AC mobil pribadi om yang isinya juga paling hanya om dan supir, mana mungkin supir om mau merokok di dalam mobil ber Ac yang ada om pecat dia. Om, sejak lahir saya terbiasa naik angkot dan bis kota hampir tiap hari. Dan hampir tiap hari itu saya menerima paparan asap rokok. Saya beri sinyal paling halus menutupi hidung dengan tangan, mereka tetap asik merokok, saya beri isyarat lain dengan batuk-batuk dia semakin kuat menghembuskan asap rokoknya, sampai akhirnya saya bilang bisa dimatikan rokoknya? Dia suruh saya turun dari angkot. Tahu om apa rasanya? Rasanya saya tidak punya hak untuk menghirup udara yang bersih di negara ini. Saya rasa ini juga bukan hanya tentang saya karena jumlah pengguna kendaraan umum ribuan. Mobil pribadi itu masih jadi barang mewah di negara ini om.

Parahnya, sekarang ini saya cenderung parno dengan asap rokok.

Mereka yang pro rokok bilang ada indikasi disusupi oknum dalam pembuatan RPP mengenai rokok

Saya sendiri seorang yang agak antipati dengan aturan-aturan pemerintah yang sering gonta ganti dengan alasan yang terlalu macam-macam. Terserahlah apa kata teman-teman tentang oknum di balik RPP itu. Yang jelas ketika tidak ada toleransi dari perokok aktif dalam ‘bersedekah penyakit’ maka memang harus ada aturan yang memaksa agar perokok tidak merokok di tempat umum. Permintaan saya nyata “Tidak ada lagi orang yang merokok di fasilitas umum” terserah bentuk peraturannya seperti apa. Aturan denda sudah sering saya lihat di banyak fasilitas umum lalu apa nyatanya? Nyatanya mereka seakan buta huruf, penindak hukum pun tidak ada yang menindak pelanggaran tersebut. Bahkan di kampus tempat saya bekerja pun yang ada larangan merokoknya tetap saja ada yang merokok. Saking kesalnya saya pernah marahi mahasiswa saya yang merokok di tempat umum, anak farmasi pula malu-maluin mendingan keluar dari farmasi (maaf saya agak keras, tapi nyatanya seorang farmasis nantinya diharapkan akan melanjutkan ke jenjang apoteker. Setelah itu mereka akan disumpah berdasarkan agamanya masing-masing. Dalam lafal yang pertama dikatakan bahwa apoteker berSUMPAH akan membaktikan hidup bidang kemanusiaan terutama bidang kesehatan. Bagaimana mau membaktikan diri di bidang kesehatan . Menghargai kesehatan orang lain saja tidak bisa).

Saya dapat cerita dari pacar kakak sepulang dari Jepang, dia bilang orang Jepang sangat taat dengan merokok di tempat yang ditentukan. Tempat merokoknyapun dibuat sangat kecil dan tidak nyaman. Hal itu dilakukan untuk menekan jumlah perokok . Lucunya orang Indonesia justru merasa perokok hak nya tidak dihargai dengan menyediakan tempat merokok yang tidak nyaman.

Mereka bilang kenapa rokok dilarang karena beresiko terhadap kesehatan sedangkan lemak, keju, jeroan yang juga mengakibatkan penyakit tidak dibatasi?
Mas, pak, bu, mbak,,saya pun ga protes ketika rokok hanya beresiko menyebabkan penyakit terhadap yang menghisap tapi jelas nyata kejadiannya bahwa rokok itu juga bersedekah penyakit pada orang yang tidak merokok tapi menghirup asapnya.

Saya tidak membenci perokok tapi masalahnya sebagian besar perokok yang saya temui tidak memiliki toleransi. Diskusinya semakin ruwet menurut saya. Saya sebagai penonton yang tidak bisa menyuarakan apapun malam ini membayangkan bagaimana jika di akhir diskusi ini doronglah seorang pasien yang menderita kanker paru-paru karena menjadi perokok pasif. Tampilkanlah slide-slide yang menunjukkan perokok pasif yang terkena kanker dan harus mendapat kemoterapi, ceritakanlah betapa sakitnya kemoterapi itu, lalu ketika seseorang didiagnosis sakit karena menjadi perokok pasif kepada ASAP YANG MANAKAH DIA HARUS MENUNTUT? Kepada ROKOK YANG MANAKAH DIA HARUS MEMINTA KESEMBUHAN? Kepada MANUSIA YANG MANAKAH  DIA HARUS MEMINTA TANGGUNGAN BIAYA PENGOBATAN?

Saya menghormati para petani tembakau dan berharap pertanian mereka semakin maju tapi semoga bukan lewat produksi rokok yang luar biasa semakin meningkat dan linear dengan peningkatan penderita penyakit kanker. Semoga teman-teman yang sedang mempelajari kloning dan semacamnya dapat semakin mengembangkan teknologi tanaman transgenik sehingga petani tembakau pun tidak perlu takut darpurnya tidak mengepul lagi karena pembatasan penggunaan rokok/tembakau.

Sudah ah, makin bundet otak saya lihat Indonesia Lawyer Club. Terimakasih Indonesia lawyer Club yang sudah membuat saya menulis lagi :D

Sabtu, 19 Mei 2012

Selalu ada yang Terlewatkan dari Sebuah Kemudahan


Sms, BBM, handphone, skype, yahoo messenger dan segala kemudahan komunikasi yang membunuh dimensi jarak sampai ribuan kilometer. Sadarkah teman? Ada pelukan yang ditunggu orangtua di ujung telepon. Ada suara yang rindu didengar di balik suara bing..bing atau apalah dari BBM. Ada juga raut rindu yang tersembunyi dari web cam dan pastinya ada cerita yang terlewatkan dari sebuah kemudahan.

Earphone, i pod, gadget pemutar musik lainnya memudahkan dalam memilih musik yang ‘hanya’ ingin kita dengar. Sebuah kemudahan yang terkadang menjadi sebuah keacuhan. Di kereta pemain musik mencoba membagi karyanya. Saya rasa bukan tentang berapa uang yang kita ‘lempar’ ke topi yang mereka ulurkan, sementara kita tetap asyik dengan suara musik dari earphone yang sengaja kita buat besar saat para pemusik itu bernyanyi. Mereka bukan pengemis kawan, hanya mencoba sharing. Lepaskan sejenak earphone, mereka bukan pengemis..mereka pemusik.

Motor dan mobil, sebuah kemudahan yang luar biasa apalagi dalam ketergesaan untuk menuju sebuah tempat. Teman, ada hangatnya matahari yang dapat kita rasakan setiap pagi jika kita mau bangun lebih pagi dan mencoba berjalan kaki. Ada sejuknya angin yang bukan dihasilkan dari AC dalam mobil. Ada sejuknya udara saat hujan rintik mampir sejenak. Ada perjalanan yang bisa kita nikmati sambil bercerita.
Google dan mesin pencari informasi lainnya, membuat kita dengan mudah mengerjakan tugas kuliah. Bahkan yang tidak mungkin dikerjakan dalam 1 atau 2 hari bisa selesai dalam 1 jam, ‘tinggal copy paste’ saja  lagi-lagi kita melewatkan sebuah bangunan luar biasa yang sebenarnya tidak kalah dengan google dan saudaranya. Hanya saja kemalasan membuat kita enggan melangkah ke tempat yang namanya perpustakaan. Buku-buku itu bukan fosil teman, mereka adalah dokumentasi ilmu pengetahuan, penjawab pertanyaan yang mondarmandir dalam benak kita, mereka adalah karya.

Teman, masih banyak yang lain. Ketika sebuah kemudahan disalahartikan. Ketika sebuah kemajuan teknologi dianggap dapat menggantikan segalanya, mematikan rasa kita. Saat semua orang berlomba meng up date teknologi terbaru yang mungkin hanya sekedar ‘ikut-ikutan’. Sebuah nilai kehidupan yang sepertinya remeh sekali bukan? Maka kalian abaikanlah semua yang kecil da remeh ini, tanpa disadari bahwa semua berawal dari hal yang kecil. Saat kita sering dengan mudah mengurai kata ‘gagap teknologi kamu’ padahal tanpa disadari ‘teknologi telah membuat kita gagap akan hidup’.  


Jadi, jemputlah matahari saat pagi, peluk dan temuilah orang yang lama tidak kalian temui, sisihkanlah waktu sedikit dari jam kumpul-kumpul di kafe sambil browsing dengan mencoba kembali ke tempat bernama ’perpustakaan’. Karena, kadang kemudahan membuat kita melewatkan banyak hal yang sebenarnya berarti.

Namanya Tulus


Ci,akhirnya setelah berhari-hari saya coba mencari apa pentingnya dan hebatnya sebuah tulus sepertinya mulai ada pencerahan.

Tulus adalah sebuah kejujuran bukan ci? Ketika kamu lihat dia melakukan kesalahan maka kamu bilang dia salah tanpa takut melukai perasaanya karena kamu hanya ingin dia menjadi lebih baik. Tulus itu bukan topeng atau ‘make up’ yang menutupi wajah kita dari sebuah kealamian.

Tulus bukanlah sebuah trend, bukan begitu ci? Tidak tergantung sedang modelnya perempuan bergaya korea, model jilbab yang syalalala. Sedang model seperti apapun tulus itu akan selalu hadir. Tidak seperti mode yang tidak konsisten, sepantasnya ketulusan selalu ada dalam masing-masing diri kita.

Tulus bukanlah hal yang membuat kita menjadi tidak nyaman, bukan begitu ci? Tidak perlu berdandan cantik untuk dapat tulus. Tidak perlu bergaya feminim agar orang bisa merasakan kertulusan. Karena disitu kuncinya, ketulusan bukan dilihat tapi dirasa.

Tulus bukanlah hal yang mudah hilang, bukan begitu ci? Kecantikan wajah dapat memudar seiring umur, kalaupun ada itu hanyalah manipulasi alat-alat atau produk kecantikan yang menutupi kerut wajah. Kekayaan hanyalah sementara, ketika ada tangan Tuhan mengambil kembali milik-Nya manusia tidak punya kemampuan melawannya. Maka ketika manusia mengingat seseorang karena kekayaan dan kecantikan maka nasibnya hanya akan seperti itu, seiring waktu akan hilang, mereka layaknya variabel dependen dengan waktu sebagai variabel independennya sedangkan ketulusan terhadap seseorang akan selalu mengena.

Tulus adalah hal yang sulit dicari saat ini, bukan begitu ci? Saya tahu sekarang kenapa bisa begitu ci, karena akumulasi hal-hal di atas. Kita sendiri yang membuat tulus menjadi hal yang tidak bernilai. Ketika saat ini yang dianggap bernilai adalah yang tampak, yang nyata, yang visible.
Terimakasih ci membuat saya berfikir cukup lama, akhirnya saya dapat jawabannya.


*Dedicated to Yenny Prasaja, sebuah obrolan saat jalan kaki perpus pusat-stasiun pondok Cina

Senin, 19 Maret 2012

Semacam surat Terbuka

Sebenarnya saya bingung hendak menyampaikan ini kepada siapa, mengingat siapa saya yang suaranya akan didengar. Maka saya putuskan membuat surat terbuka saja, bukan bermaksud provokasi tetapi saya harap ada suara teman-teman yang memiliki pemikiran lebih jernih untuk meredam pikiran yang terlalu berontak ini.

Sebuah kekecewaan atas perjalanan bolak-balik yang menghabiskan waktu hingga kurang lebih 4 jam dengan tujuan menuntut ilmu tetapi yang saya temui kelas yang kosong, dengan AC yang sangat dingin entah untuk mendinginkan siapa dan muka melongo teman-teman yang sama-sama heran karena ternyata kuliah KOSONG.

Awalnya saya maklum, satu kali dua kali hingga puncaknya hampir mid semester masih ada saja dosen yang baru memberi kuliah satu kali dan embel-embel tidak kuliah karena rapat atau sibuk.

Aneh ya, ketika jadwal begitu apiknya tercantum di portal akademik yang sebegitu canggihnya membuat orang berdecak kagum dengan semua yang sepertinya tertata apik, ternyata itu semua hanya pemanis sebuah sistem. Ingat betul saya dulu kuliah jadwal harus fotokopi sendiri di TU serba manual, tapi yang jelas kertas-kertas yang saya fotokopi itu tidak memberi janji palsu.

Bilang saja ada rapat maka semua masalah akan beres, kuliah ditiadakan karena rapat satu kali dua kali dan akhirnya berkali-kali. Baru paham saya ternyata buat orang-orang di kota besar ini, esensi tenaga pendidikan adalah rapat bukan mengajar. Semacam orang DPR yang rapat, jadi janganlah suka protes yang bilang kerjaan DPR rapat terus, tidak jadi orang DPR saja rapat terus.

Saya sibuk ada kerjaan lain, jadi konsultan, ketemu pengusaha obat, yang jelas bukan jualan pulsa karena untungnya sedikit dan tidak memakan waktu. Bukan begitu?Pa, kasian saya dengan nasib para dosen seperti ini, mereka bilang mungkin mana bisa hidup dari gaji sebagai dosen. Bohong itu semua, perkenalkanlah bapak saya, usia 56 tahun, tulang punggung keluaga, istri seorang ibu rumah tangga, 4 anak 2 anaknya sedang disekolahkan S2  bisa dia hidup dari mengajar. Menjadi dosen adalah sebuah pilihan, pilihan untuk pengabdian bukan pilihan untuk meraup uang atau cari gengsi. Katanya mereka malu masa jadi dosen ga naik mobil,  bapak saya malah naik motor bahkan di usianya yang lanjut, sekalinya naik mobil ya naik angkot dan bus, sama seperti yang lain berdesak-desakan dan bau keringat.

Sungguh saya sangat berharap ketika para pengajar yang telah sekolah bertahun-tahun di luar negeri, yang katanya suasana belajarnya sangat disiplin, tepat waktu, dan tenaga pengajar yang sangat membantu maka ketika mereka kembali ke Indonesia ada banyak sikap baik yang akan mereka tiru dan tularkan kepada kami. Sayangnya, beasiswa yang mereka dapat mungkin hanya dimanfaatkan untuk meraih gelar atau posisi yang lebih dihargai. Sampai Indonesia mereka cetaklah prototype individu  yang suka datang telat, suka membatalkan janji, tidak disiplin.

Well perlu saya ingatkan, saya sangat respect dengan dosen2 ketika saya kuliah sarjana dan profesi karena mereka mengerti apa itu PRIORITAS. Mereka tidak malu naik becak, naik motor, atau bahkan jalan kaki. Sebuah nilai kesederhanaan yang patut ditiru sebagai contoh tenaga pendidik. Mereka buat aturan yang membuat mahasiswanya dan dirinya sendiri disiplin. Ingatlah pak bu, kalian adalah panutan, bukan hanya ilmu tetapi juga bersikap.

Mereka bilang ini kuliah S2, saya bilang ini bukan kuliah S2 (jika terus seperti ini)tetapi semacam cara meraih gelar S2 entah itu dengan atau tanpa kuliah. This is it, potret pendidikan Indonesia, ketika sebuah pendidikan menjadi business oriented.

Bagaimanapun ini sudah jadi pilihan saya, kamu, dan kita sekarang tinggal bagaimana menjadikan diri bukan sebagai korban sebuah sistem tapi ikut mengambil kendali dari sistem tersebut.