Sudah setahun ini saya menggantungkan diri dengan
menggunakan jasa dari PT KAI untuk berangkat kuliah atau sekedar jalan-jalan.
Dalam seminggu saya bisa 5-7x menggunakan alat trasnportasi ini karena memang
lokasi kuliah saya yang berpindah-pindah tapi mudah dijangkau dengan kereta (UI
Depo, RS Cipto Mangunkusumo, atau Kemenkes RI). Beberapa kali saya
terselamatkan dari kejadian aneh-anehnya Commuter Line (kecelakaan atau demo
karyawan PT KAI) tapi ternyata memang keberuntungan tidak bisa terus menerus
terjadi.
Tepatnya kemarin, hari itu saya pergi kuliah ke RSCM (Departemen
Neurologi dan Obsgyn FKUI RSCM) saya berangkat dari rumah sekitar jam5.20 pagi
(bangun dari sekitar jam 3.30 pagi) dan seharusnya jika sesuai jadwal dan lama
perjalanan mestinya saya sudah sampai Bogor lagi sekitar jam 5 sore. Ternyata tidak
untuk hari spesial kemarin itu?
Saya naik kereta khusus wanita jam 15.05 dari stasiun Cikini
menuju Bogor, di Stasiun Universitas Pancasila (kalau tidak salah) petugas
langsung memberitahu bahwa kereta hanya sampai Depok Baru karena ada pohon
tumbang yang mengenai sambungan atas listrik sehingga mengganggu persinyalan di
daerah antara stasiun Citayam dan Depok Lama, tidak tahu sampai kapan gangguan
ini bisa diatasi. Semua kereta hanya bisa sampai Depok Lama begitupun kereta
dari Bogor. Langsung penumpang kereta yang isinya perempuan semua itu ribut.
Saya pun bingung karena saya belum pernah sama sekali menggunakan transportasi
selain kereta dari arah stasiun Depok Baru hingga Bogor. Saya sms mas cerita
soal ini dia malah telepon dan tahu apa yang dia bilang di telepon “tanya mama
naik angkutan apa, ati-ati di jalan ya”. Hemm silakan pembaca komen sendiri
soal kelakuan si mas. Untungnya saya bisa selamat sampai rumah sekitar jam6
sore dengan naik bus Depok Sukabumi dan kemudian ganti angkutan kecil lain.
Banyak hal yang menarik buat saya hari itu
Jaga Mulutmu karena mulut mencerminkan pribadi dan
kecerdasanmu
Di stasiun UI ada 3 orang mahasiswi yang naik dan ketika ada pemberitahuan soal kereta yang gangguan dia bilang kurang lebih seperti ini “apa-apaan ini, tiket kereta naik jadi 9ribu tapi pelayanan kayak sampah” seorang ibu di depan saya tersenyum dan saya tertunduk malu. Dan saya masih berharap besar bahwa yang mengucapkan itu bukanlah mahasiswi di tempat saya sekarang ini melanjutkan kuliah Magister Farmasi saya.
Tentunya kalian tahu apa itu konotasi sampah, sesuatu yang
sudah tidak berguna dan dibuang. Jika kalian memang merasa kereta ini sampah
mengapa kalian masih saja menggunakannya?
Gangguan sinyal ini diakibatkan proses alam, seharusnya anda
berfikir bahwa penyebab langsungnya adalah pohon tumbang, protes saja pada
pohon tumbang, lalu anda akan dikira gila J
Saya masih menyimpan harapan besar bahwa PT KAI menaikkan
tiket kereta untuk sebuah upaya menuju yang lebih baik. Perbaikan yang
sedang dilakukan mungkin memang perlahan-lahan. Kalau anda ingin membandingkan
keretaapi di Jepang silakan, tapi jangan lupa bandingkan harganya dengan yang
di Indonesia. Nanti, kalau PT KAI menaikkan harga tiket seperti disana (mungkin
dengan fasilitas yang sama dengan disana)masyarakat sendiri juga yang akan protes, pasti
bilangnya katanya alat trnsportasi umum tapi kok harganya ga umum. Nah lho,
susah kan jadi&menghadapi orang Indonesia ;)
Biasakan Menyediakan Alternatif
Bukan berarti saya mendukung sepenuhnya PT KAI atas kejadian
kemarin. Alangkah baiknya ada jalan keluar selain menelantarkan penumpang
dengan menenangkan bahwa sedang dalam perbaikan atau sekedar mengembalikan uang
tiket. Karena bukan hanya uang yang dirugikan tapi juga soal waktu dan
ketidakjelasan. Mungkin dengan menyediakan angkutan umum (bis, angkot) untuk mengantar penumpang ini sampai stasiun Bogor sehingga
setidaknya kami merasa bahwa PT KAI juga sudah mempersiapkan alternatif jika
kereta tidak berjalan normal. Kalau seperti ini kan kesannya PT KAI tidak
pernah memikirkan bagaimana jika kondisinya tidak berjalan sesuai yang
seharusnya.
Jangan terlalu berharap pada orang lain di situasi genting
Kenapa? Karena mungkin anda berfikir bahwa anda tidak dapat
menemukan jalan keluarnya tapi orang lain berfikir anda bisa. Seperti yang
terjadi saat saya berharap mas menawarkan untuk menjemput tapi nyatanya dia hanya
bilang hati-hati J
Nyatanya saya pun masih bisa pulang tapi dengan hati agak dongkol, bukan
dongkol pada PT KAI tapi malah jadi sama si mas. Lagi-lagi saya merasa mas
tidak khawatir atau kurang perhatian dengan saya. Saya harus berfikir logis juga,
bukan mas tidak perhatian/khawatir tapi saya rasa mas percaya saya bisa pulang
sendiri tanpa ditolong. Memang kalau berhadapan dengan si mas saya harus menyeimbangkan
sisi kewanitaan dan kemaskulinan (hahaha) menyeimbangkan antara perasaan dan
logika. Sebenarnya saya juga yakin saya
bisa tapi seperti biasa perempuan serungkali inigin melihat sampai dimana
perhatian atau pengorbanan laki-laki. Anggaplah pengorbanan untuk menjemput
sepertinya terlalu kecil maka mas menunggu untuk ada kesempatan memberi
perhatian yang lebih besar dari sekedar menjemput saya yang terlantar di stasiun
(positive thinking)