Sabtu, 05 Maret 2011

inikah namanya puisi..


Hey Pedoman Diagnosis dan Terapi
Lembaranmu melambai-lambai penuh arti, mengajak orang-orang yang online untuk segera berhenti

Hey DFP
Lembaran buram penuh kotak-kotak, engkau bagaikan TTS mengajak kami untuk menemukan misteri dari penyakit pasien

Hey Literatur
Di Piro, Martindale, DIH, OOP, maaf namanya yang tidak saya sebut, andaikan kalian seseru Harry Potter tentunya sudah saya lahap habis sejak saya beli pertama kali

Sutomo..oh Sutomo
Bahagianya kami ditempatkan disana, bisa merasakan ritme kerja yang begitu bersemangat, sesemangat salah satu teman saya yang mengerjakan kasus di salah satu  stase dari jam 8 pagi hingga sengah 12 malam

Teman oh teman,,besok sudah senin lagi, kenapa kalo hari senin sampe jumat rasanya lama sekali

Rawat Jalan, Konseling, Bedah Rawat Inap, Medik, Stase anak, Gedung Bedah Pusat Terpadu, Instalasi Rawat Darurat (Maaf yang lupa saya sebut) bersahabatlah dengan kami, sperti persahabatan sherina dan derby romero dalam film Petualangan Sherina.Amin

Selamat datang hari Senin, saatny Rolling teman-teman

Yang jelas kawan , kita akan belajar tentang nikmatnya kehidupan

Bersykurnya menjadi orang sehat bisa berlari sementara di samping kanan kiri kita banyak orang didorong dengan kursi roda untuk mendapat kemoterapi

Bahagianya ,masih bisa merasakan tegang saat akan diskusi/presentasi, karena mereka yang di GBPT jangankan mereka merasakan tegang, mereka tidak sadar nyawa mereka sedang di meja operasi

Beruntungnya, diberi kesempatan belajar langsung dari guru bernama pasien
  




Sabtu, 19 Februari 2011

Ingat-ingat pesan mama

Mama bilang
Jagalah shalat dan bacalah Al-Quran, karena saat mama dan anak-anaknya berada di tempat yang dipisahkan oleh jarak maka hanya Tuhan yang dapat menjaga dan mama hanya dapat mempercayakan pada sang Maha Pencipta

Mama tidak menyuruh anak-anaknya untuk belajar karena mama percaya kalian sudah dewasa sudah tahu tanggungjawabnya

Suatu saat menjadi seorang ibu, ajarilah anak-anakmu membaca Al-Quran karena mama sendiri yang mengajar anak-anaknya untuk membaca Al-Quran

Saat engkau punya anak mama akan lebih bangga jika cucu mama berkata aku lah seorang penghafal Al-Quran bukan aku lah seorang pemain alat musik yang handal atau juara dunia dalam bidang apa
Saat engkau mengandung kenalkanlah calon bayimu dengan senandung Al-Quran, tidak harus musik klasik mama ingin cucu nya sejak lahir mencintai Al-Quran

Jangan lupa kodratmu sebagai seorang wanita, bekerjalah, aplikasikan ilmu,bagilah pada sesama tetapi mama tidak suka jika pekerjaan membuatmu merasa lebih tinggi daripada suami (jika sudah punya suami), mama tidak suka jika pekerjaanmu membuat merasa tinggi hati dan menjauhkanmu dari keluarga

Tuntutlah ilmu setinggi-tinggi nya, tidak usah pikirkan biaya karena sudah tanggungjawab mama dan papa dari anak-anaknya lahir sampai menikah

Dan ini yang selalu membuat saya bangga, jadilah cantik. Tanpa harus melepas jilbab, tanpa harus memakai baju ketat, tanpa harus selalu mengikuti mode anak-anak gaul(maksud mama memakai celana kelewat pendek, baju kurang bahan, dll). Kecerdasan, ketakwaan, tingkah laku itulah yang membuatmu cantik.

Hanya sebuah catatan kecil agar saya selalu mengingat nasihat mama. Trimakasih mama. Semoga nasihat mama bukan hanya menjadi catatan kecil di blog ini. Amin. :)

Selasa, 08 Februari 2011

Tuhan ada dimana(mana)?



Tuhan yang disebut dengan berbagai nama, yang dicinta dengan berbagai cara..itu yang saya percaya. Saya memang bukan seorang muslimah yang mungkin bisa dibilang alim ,entahlah masuk kategori solekhah atau apapun namanya itu. Pengetahuan agama saya memang tidak seberapa, bukan seorang yang selalu mengaji di setiap tempat, selalu pergi ke mesjid, selalu mendengarkan pengajian yang jelas saya tidak munafik untuk menafikan keberadaan Tuhan. 


Tuhan, engkau ada dimana? Engkau dimana-mana. Betul kan ya? Saya tahu, dalam agama islam orang sebaiknya shalat di tempat yang layak, bersih, kalau bisa sih mesjid. Mesjid yang bagus sekalian, dengan kubah emasnya, dengan pilar-pilar besarnya mungkin biar bisa kusyuk atau mungkin biar bisa sekalian foto-foto atau jalan-jalan. Tuhan saya percaya, tanpa harus di bangunan mewah sperti itu Engkau pun mau mendengar doa hambamu.


Tuhan, engkau benar ada dimana-mana tentunya. Tadi sore waktu jalan keluar dari rumah sakit yang konon katanya lebih besar dari rumah sakit pemerintah yang sudah cukup besar di Jakarta, saya melihat ada orang yang sedang shalat, di teras pinggiran bangsal, di sampingnya ada selokannya yang bisa dibilang agak kurang bersih, di depannya ada ibu-ibu sedang bongkar-bongkar makanan sambil membelakangi yang shalat, di belakangnya ada yang merokok.


Tuhan yang ada dimana-mana, entah mengapa saya ingin marah tetapi saya juga sedih. Tuhan, adakah engkau merasa dihina? Di saat banyak orang yang membangun mesjid nan megah dan mewah di sisi lain masih ada yang shalat dalam kondisi seperti itu. Tuhan, saya mohon jangan marah dan janganlah membuat hati saya marah melihat seperti itu. Daripada mesjid mewah dipakai hanya untuk ajang pamer donasi, daripada mesjid mewah hanya dipakai foto-foto, tentunya doa tulus dari seorang wanita yang mengharapkan kesembuhan bagi saudaranya, atau anaknya, atau suaminya walaupun hanya di emperan bangsal merupakan hal yang sangat berarti. 


Bukan karena bangunan yang mewah Tuhan disembah, karena Tuhan tidak hanya ada di bangunan yang mewah. Saya juga tak begitu paham apakah memang shalat harus di tempat yang benar-benar bersih dengan kadar tertentu. Setidaknya saya seorang awam yang juga mencintai-Mu memohon, di tengah asap rokok, di tengah bau amis di selokan, di antara orang yang tidur-tiduran kabulkanlah doa wanita itu sehingga saya tidak perlu lagi bertanya Tuhan engkau ada dimana? Karena saya punya jawabannya engkau ada dimana-mana. Di hati setiap manusia, itu sebabnya engkau tak terlihat mata, Tuhan terlihat dengan hati.

halaman lantai 4
kos darmawangsa
Surabaya



Minggu, 06 Februari 2011

sms fitri


Hari ini, libur, masih di Surabaya. Angkot nomor C membawa saya dan teman-teman ke pasar Atum. Pasar yang katanya terkenal menjual macam-macam makanan. Ya beginilah kami di sini, kalo hari biasa ke rumah sakit Sutomo kalo libur jalan-jalan. Tak ada yang istimewa di perjalanan. Hanya gedung-gedung yang ganas seperti akan mencakar langit, gedung-gedung yang seakan berlomba ingin menggapai langit dan nyatanya langit itu tidak akan terjangkau. Bosan saya melihat bangunan-bangunan yang sombong itu. 


Getar handphone terasa dari hp monokrom saya. Dengan agak malas saya buka. Selesai membaca senyum-senyum sendiri  jadinya. Sms dari Fitri, salah seorang pengungsi saat bencana Merapi beberapa bulan lalu. Saya coba kembali mengaktifkan ingatan lama, ya sudah skitar 2 bulan kami tidak bertemu, saling bertukar canda. Bahkan pertemuan kami yang terakhir di RS sardjito tidak ada selingan canda karena saat itu Bu Nunu (Ibu dari Fitri) terbaring dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya. Mulai alat bantu pernafasan sampai pendeteksi denyut jantung.

Ya, mungkin saya tidak melupakan sosok dari Fitri atau Bu Nunu tetapi saya perlahan melupakan rasa rindu kepada mereka. Kesibukan mungkin yang membunuh rasa rindu saya, rasa rindu yang sebenarnya saya rindukan. Hemmm.. ketulusan dan kepolosan kata-kata fitri  dan ibunya yang sulit saya temukan. Mereka sederhana, dan kesederhanaan yang membuat mereka berbeda, sulit ditemukan. Hidup yang kompleks hanya bikin manusia tidak mau berpikir sederhana, semuanya dipersulit, bersyukur saja sulit. 


 bersama fitri dan eko
"Mbak Nisa, tadi mbak priska ke rumahku sama mas bobby. Mbak kirim pesan buat embak di surabaya sehat terus lo mbak biar besok ketemu lagi." Itu isi sms terakhir dari Fitri sebelum saya turun dari angkot C.  Polos betul doa anak umur 9 tahun ini. Terimakasih fit, semoga Tuhan meng ijabahi doamu. Suatu hari nanti ajarkan mbak berdoa untuk orang lain, doa yang sederhana tetapi penuh ketulusan.


kamar 4.6
surabaya

Kamis, 27 Januari 2011

Pojok Nasi Langgi

6 jam yang melelahkan di kampus, hanya menunggu sebuah kepastian tanggal keberangkatan saya dan kawan ke sutomo. Lagi-lagi birokrasi dan uang menjadi masalah utama, bosan saya dengan segudang sistem yang mempersulit, padahal hidup di tanpa sistem saja sudah sulit. Setengah 5 waktu jam casio saya, hmm sepertinya akan pulang malam lagi, tak apalah saya menikmati waktu saya bekerja dan beraktifitas, daripada terlalu banyak hibernasi. Saya putuskan untuk mampir ke kos Fira, salah satu dari sahabat terbaik yang pernah saya kenal. Iseng saya ingin mendinginkan fisik dan hati saya yang terasa panas sekalian makan malam bersama 2 sahabat terbaik saya yang lainnya Nia dan Erna.

Pojok nasi  langgi menjadi tempat pilihan kami. Hanya sebuah tempat lesehan dengan harga makanan dengan harga 500-1500. Bukan rumah makan yang besar dengan deretan kursi-kursi angkuhnya, hanya beralaskan tikar yang membuat kita merasa nyaman. Bukan deretan menu ala eropa, hanya makanan yang membuat saya selalu merindukan kota Yogya. Ditemani es jeruk dan nasi kucing kami melepas cerita. Lama kami tidak berkumpul, untuk sekedar bercerita. Bukan, bukan cerita tentang mata kuliah, bukan cerita tentang ujian, bukan cerita tentang bagaimana menjadi anak populer di kampus, kami hanya bercerita tentang hakikat hidup. Hakikat hidup bahwa kami butuh tertawa lepas. Tertawa lepas layaknya anak kecil yang belum mengenl kepalsuan. Tanpa kita sadari kedewasaan seiring sejalan dengan kemampuan untuk memalsukan, bahkan hal sepele pun dipalsukan, yaitu tertawa.


30 menit kami bercerita, hal yang cenderung sepele mungkin, itu juga sebabnya anak kecil dapat tertawa lepas karena mereka membicarakan hal sepele. Tertawa suatu cara untuk melepaskan kepenatan. Saya memang letih dengan segala aktivitas akhir2 ini tetapi saya butuh tertawa lepas bukan istirahat 2 hari penuh, bukan menyendiri  dan menikmati kesendirian. Tertawa bukan untuk menghina. Tertawa tanpa mengernyitkan kening. Tertawa bukan karena ikut-ikutan. 


Ah, saya akan sangat rindu suasana ini. Seperti kata nia, lama ga ngerasain tertawa lepas. Benar teman, parah sekali kondisi sosial ini bahkan untuk tertawa lepas pun kita tidak bisa. Sepertinya lama2 negeri ini akan membuka banyak lowongan pekerjaan bagi ahli jiwa karena manusia tidak bisa melepaskan tawa. Lama-lama kita harus mengeluarkan uang untuk sekedar bisa melepaskan tawa, tawa yang lepas. 

Kamar Yogya, ditemani Lets Go Reunian The Groove

Jumat, 14 Januari 2011

Goresan Purna Part 1 (sedikit pelajaran farmasi di luar kuliah)

Perjalanan semalam dari surabaya semalam bersama Ana membuat saya kembali mengingat masa-masa di purna budaya. Posko pengungsian penuh pelajaran. Obrolan saya semalam dengan ana membuat saya kembali ingin bercerita, hanya sebuah selayang pandang. Sedikit berbagi tentang ilmu terutama ilmu farmasi yang tidak semua teman mungkin bisa mendapatkannya.


Teman, ternyata mengatur stok obat tidak semudah analisis pareto atau VEN dkk tapi tenang saja kita masih memakai yang namanya slow moving atau fast moving. Dengan uang 5 juta kami dihadapkan dengan kebutuhan pengungsi dan ribuan produk obat yang harus kami pilih di pasaran(sedikit berlebihan, hehe).  Kebetulan tanggungjawab saya salah satunya adalah menjamin stok obat di purna, atau bahasa mudahnya menjamin kalo ada pengungsi minta OTC obatnya ada, kalo dokter menulis resep obatnya juga ada, sebisa mungkin menghindari kata tidak punya (manajemen betul,, ;D ). Untuk membuat slow moving atau fast moving saya tidak dapat mengandalkan hitungan kalkulator atau rumus2 yang dijejali selama kuliah. Maaf kawan, ujian akhir atau ruwetnya rumus yang kita pakai akhirnya pada kehidupan nyata tidak banyak dipakai. Yang terpenting adalah insisiatif dan kemampuan menganalisis keadaan. Untuk 1-2 hari saya sering kena marah Mba Isni (tetuanya tim medis) karena 2 hari pertama analisis saya sering meleset. Jelas dia lebih handal, pekerjaan dia di rumah sakit membuat dia lebih terlatih. Namun, hari2 berikutnya saya mulai ahli memahami pola nya, sedkit sombong ya??hehe.

 rapat alot(foto dari fb mba achi)

 Menentukan obat-obat slow moving atau fast moving yang akurat harus didukung sistem atau pencatatan yang baik. Kenapa seperti itu? Karena awalnya saya belum membuat sistem bahwa tiap shift harus dengan teratur mencatat pengeluaran dan pemasukan baran baik OTC maupun obat resep, seringkali barang yang keluar tidak dicatat. Hasilnya barang yang tertulis ada ternyata tidak ada dan itu berpengaruh pada hasil kita menentukan slow moving atau fast moving. Kalau sistemnya sudah terbentuk tinggal cara menjalankannya yang harus benar, jangan dikira mencatat barang keluar masuk pekerjaan yang mudah sehingga disepelekan. Masalah yang paling sering terjadi adalah ketika jam sibuk, resep yang masuk terlalu banyak ditambah orang yang meminta OTC juga banyak akhirnya pencatatan obat OTC yang keluar sering terlupa, simpel tapi ketika yang terlupa untuk dicatat 20 item obat dengan merek sama tentunya hasilnya akan berbeda signifikan antara catatan dan kenyataan. Be careful buat yang 1 ini kawan ;)

 obat minimalis (this foto taken by mas lexi)

Nah, sekarang tinggal bagaimana mengatur agar yang slow moving akhirnya bisa dipergunakan juga oleh pengungsi biar ga jadi stok mati(bener ga ya istilahnya stok mati). Seringkali mereka terlalu terikat pada brand (ya kita tau bagaimana melekatnya brand pada suatu produk..susah pindah ke lain hati)disini cara kita komunikasi dan mengatur pengeluaran barang benar2 diuji. Mengganti kayu putih merek c**la** dengan merek K***c**e ternyata tidak mudah, walaupun isinya sama2 minyak kayu putih. Kalo ini caranya ya temen2 musti belajar sendiri namanya juga komunikasi, ga punya rumus, mesti langsung praktek.
Ya kurang lebih itu cerita singkat dari purna tentang obat slow moving dan lawannya..sebenarnya yang kaitannya dengan manajemen banyak. Saran saya, ambillah resiko orang yang ga maju orang yang ga pernah mau ngambil resiko dan sesuatu yang menantang ;) trust me it works (iklan banget).

Selasa, 21 Desember 2010

Namanya Arif..

Umurnya baru sekitar 11 tahun..saya bertemu dengannya secara kebetulan..
Kepalanya agak botak, selalu tersenyum kepada semua orang, dia hanya tidak tersenyum saat menahan sakit. Beberapa kali saya mengajaknya berbicara dia menjawabnya dengan senyuman,,ya senyuman penuh keceriaan dan tulus (setidaknya itu yang saya lihat). Sesekali ibunya mengelap air liur yang sering keluar dari mulutnya, bukan karena manja tetapi karena ketidakmampuan Arif mengatur tubuhnya sendiri. 


Sekali saya melihatnya kesakitan, saat membawanya dengan ambulans ke RS Sardjito. Saya duduk tepat di sampingnya bersama ibunya dan salah seorang teman saya. Ditemani suara ambulans. Doa saya dalam hati, “Tuhan, saya tahu ia tidak memiliki kemampuan untuk sekedar bilang sakit atau berteriak menahan sakit. Maka janganlah engkau memberikan rasa sakit yang tidak dapat ia hadapi”. Tubuhnya terlihat kaku menahan sakit, Hebatnya seorang arif tidak keluar teriakan apapun dari mulutnya. Wajah ibunya panik, saya hanya bisa menenangkan padahal dalam hati saya sebenarnya juga miris, ada ketakutan. Di saat itu juga saya ingat wajah ayah dan ibu saya. Ternyata sakit bukan hanya dirasakan orang yang mengalaminya tetapi juga orang terdekatnya., tapi terlihat tangan dan kakinya kaku menahan sakit. 


Sore-sore berikutnya di Purna Budaya, saya sempatkan 1 atau 2 hari sekali untuk sekedar melihatnya bermain, berjabat tangan, mengelus-elus kepalanya, dan bertanya kepada saudaranya apakah obatnya sudah diminum atau belum. Ingin sekali saya mengerti apa arti setiap kata yang terucap dari bibirnya.Sekedar ingi mengerti seperti apa rasanya menjadi ia.


Manusia menggunakan berbagai bahasa untuk berkomunikasi. Dengan mempelajari bahasa komunikasi bisa terjalin. Belajar bahasa Inggris, bahasa Jerman, ataupun bahasa Arab tidak menjadi jaminan kemudian saya dapat berkomunikasi dengannya. Arif, andaikan kamu bisa saya ingin sekali belajar bahasamu. Karena sampai saat ini saya masih menggunakan hati saya untuk memahami bahasamu. 


Sungguh sombongnya saya jika merasa bangga memahami bahasa inggris, sedikit bahasa jerman dan Arab karena ketika berhadapan dengannya saya tidak dapat mengeluarkan semua kemampuan bahasa saya. Setidaknya saya belajar dari arif (seorang anak, bukan seorang profesor dan bukan seorang peraih penghargaan)betapa malunya di saat saya memiliki enggota tubuh yang sempurna mulut masih sering saya gunakan untuk mengumpat atau mengeluh, enggan mengucap doa atau syukur. Setiap manusia terlahir dengan hati yang membedakannya dengan makhluk Tuhan lainnya namun kenyataannya hati kita tidak diajarkan untuk peduli pada keadaan sekitar. Mari belajar menggunakan hati =)