Selasa, 10 Juli 2012

Perang Rokok: Bisnis atau Kesehatan (Sebuah Tanggapan dari Diskusi Indonesia Lawyer Club)


Malam ini agak gemes saya melihat Indonesia Lawyer Club.

Mereka pro rokok, mereka bilang orang Indonesia cukup toleransi untuk tidak merokok di tempat umum.

Yang bilang itu om pengacara. Dengan percaya diri tentunya (karena sikap seorang pengacara pakemnya seperti itu), dia bilang saya tidak pernah merokok di depan anak saya atau keluarga saya, bahkan di tempat yang tidak ada larangan merokoknyapun seperti di tempat ini (ruangan diskusi ILC malam ini) saya buktinya juga tidak merokok. Om, dengan sangat rendah hati saya bertanya. Seringkah pasti jawabannya tidak, mungkin lebih tepatnya pernahkah om naik bis kota atau angkot? Yang om rasakan selalu dinginnya AC mobil pribadi om yang isinya juga paling hanya om dan supir, mana mungkin supir om mau merokok di dalam mobil ber Ac yang ada om pecat dia. Om, sejak lahir saya terbiasa naik angkot dan bis kota hampir tiap hari. Dan hampir tiap hari itu saya menerima paparan asap rokok. Saya beri sinyal paling halus menutupi hidung dengan tangan, mereka tetap asik merokok, saya beri isyarat lain dengan batuk-batuk dia semakin kuat menghembuskan asap rokoknya, sampai akhirnya saya bilang bisa dimatikan rokoknya? Dia suruh saya turun dari angkot. Tahu om apa rasanya? Rasanya saya tidak punya hak untuk menghirup udara yang bersih di negara ini. Saya rasa ini juga bukan hanya tentang saya karena jumlah pengguna kendaraan umum ribuan. Mobil pribadi itu masih jadi barang mewah di negara ini om.

Parahnya, sekarang ini saya cenderung parno dengan asap rokok.

Mereka yang pro rokok bilang ada indikasi disusupi oknum dalam pembuatan RPP mengenai rokok

Saya sendiri seorang yang agak antipati dengan aturan-aturan pemerintah yang sering gonta ganti dengan alasan yang terlalu macam-macam. Terserahlah apa kata teman-teman tentang oknum di balik RPP itu. Yang jelas ketika tidak ada toleransi dari perokok aktif dalam ‘bersedekah penyakit’ maka memang harus ada aturan yang memaksa agar perokok tidak merokok di tempat umum. Permintaan saya nyata “Tidak ada lagi orang yang merokok di fasilitas umum” terserah bentuk peraturannya seperti apa. Aturan denda sudah sering saya lihat di banyak fasilitas umum lalu apa nyatanya? Nyatanya mereka seakan buta huruf, penindak hukum pun tidak ada yang menindak pelanggaran tersebut. Bahkan di kampus tempat saya bekerja pun yang ada larangan merokoknya tetap saja ada yang merokok. Saking kesalnya saya pernah marahi mahasiswa saya yang merokok di tempat umum, anak farmasi pula malu-maluin mendingan keluar dari farmasi (maaf saya agak keras, tapi nyatanya seorang farmasis nantinya diharapkan akan melanjutkan ke jenjang apoteker. Setelah itu mereka akan disumpah berdasarkan agamanya masing-masing. Dalam lafal yang pertama dikatakan bahwa apoteker berSUMPAH akan membaktikan hidup bidang kemanusiaan terutama bidang kesehatan. Bagaimana mau membaktikan diri di bidang kesehatan . Menghargai kesehatan orang lain saja tidak bisa).

Saya dapat cerita dari pacar kakak sepulang dari Jepang, dia bilang orang Jepang sangat taat dengan merokok di tempat yang ditentukan. Tempat merokoknyapun dibuat sangat kecil dan tidak nyaman. Hal itu dilakukan untuk menekan jumlah perokok . Lucunya orang Indonesia justru merasa perokok hak nya tidak dihargai dengan menyediakan tempat merokok yang tidak nyaman.

Mereka bilang kenapa rokok dilarang karena beresiko terhadap kesehatan sedangkan lemak, keju, jeroan yang juga mengakibatkan penyakit tidak dibatasi?
Mas, pak, bu, mbak,,saya pun ga protes ketika rokok hanya beresiko menyebabkan penyakit terhadap yang menghisap tapi jelas nyata kejadiannya bahwa rokok itu juga bersedekah penyakit pada orang yang tidak merokok tapi menghirup asapnya.

Saya tidak membenci perokok tapi masalahnya sebagian besar perokok yang saya temui tidak memiliki toleransi. Diskusinya semakin ruwet menurut saya. Saya sebagai penonton yang tidak bisa menyuarakan apapun malam ini membayangkan bagaimana jika di akhir diskusi ini doronglah seorang pasien yang menderita kanker paru-paru karena menjadi perokok pasif. Tampilkanlah slide-slide yang menunjukkan perokok pasif yang terkena kanker dan harus mendapat kemoterapi, ceritakanlah betapa sakitnya kemoterapi itu, lalu ketika seseorang didiagnosis sakit karena menjadi perokok pasif kepada ASAP YANG MANAKAH DIA HARUS MENUNTUT? Kepada ROKOK YANG MANAKAH DIA HARUS MEMINTA KESEMBUHAN? Kepada MANUSIA YANG MANAKAH  DIA HARUS MEMINTA TANGGUNGAN BIAYA PENGOBATAN?

Saya menghormati para petani tembakau dan berharap pertanian mereka semakin maju tapi semoga bukan lewat produksi rokok yang luar biasa semakin meningkat dan linear dengan peningkatan penderita penyakit kanker. Semoga teman-teman yang sedang mempelajari kloning dan semacamnya dapat semakin mengembangkan teknologi tanaman transgenik sehingga petani tembakau pun tidak perlu takut darpurnya tidak mengepul lagi karena pembatasan penggunaan rokok/tembakau.

Sudah ah, makin bundet otak saya lihat Indonesia Lawyer Club. Terimakasih Indonesia lawyer Club yang sudah membuat saya menulis lagi :D

Sabtu, 19 Mei 2012

Selalu ada yang Terlewatkan dari Sebuah Kemudahan


Sms, BBM, handphone, skype, yahoo messenger dan segala kemudahan komunikasi yang membunuh dimensi jarak sampai ribuan kilometer. Sadarkah teman? Ada pelukan yang ditunggu orangtua di ujung telepon. Ada suara yang rindu didengar di balik suara bing..bing atau apalah dari BBM. Ada juga raut rindu yang tersembunyi dari web cam dan pastinya ada cerita yang terlewatkan dari sebuah kemudahan.

Earphone, i pod, gadget pemutar musik lainnya memudahkan dalam memilih musik yang ‘hanya’ ingin kita dengar. Sebuah kemudahan yang terkadang menjadi sebuah keacuhan. Di kereta pemain musik mencoba membagi karyanya. Saya rasa bukan tentang berapa uang yang kita ‘lempar’ ke topi yang mereka ulurkan, sementara kita tetap asyik dengan suara musik dari earphone yang sengaja kita buat besar saat para pemusik itu bernyanyi. Mereka bukan pengemis kawan, hanya mencoba sharing. Lepaskan sejenak earphone, mereka bukan pengemis..mereka pemusik.

Motor dan mobil, sebuah kemudahan yang luar biasa apalagi dalam ketergesaan untuk menuju sebuah tempat. Teman, ada hangatnya matahari yang dapat kita rasakan setiap pagi jika kita mau bangun lebih pagi dan mencoba berjalan kaki. Ada sejuknya angin yang bukan dihasilkan dari AC dalam mobil. Ada sejuknya udara saat hujan rintik mampir sejenak. Ada perjalanan yang bisa kita nikmati sambil bercerita.
Google dan mesin pencari informasi lainnya, membuat kita dengan mudah mengerjakan tugas kuliah. Bahkan yang tidak mungkin dikerjakan dalam 1 atau 2 hari bisa selesai dalam 1 jam, ‘tinggal copy paste’ saja  lagi-lagi kita melewatkan sebuah bangunan luar biasa yang sebenarnya tidak kalah dengan google dan saudaranya. Hanya saja kemalasan membuat kita enggan melangkah ke tempat yang namanya perpustakaan. Buku-buku itu bukan fosil teman, mereka adalah dokumentasi ilmu pengetahuan, penjawab pertanyaan yang mondarmandir dalam benak kita, mereka adalah karya.

Teman, masih banyak yang lain. Ketika sebuah kemudahan disalahartikan. Ketika sebuah kemajuan teknologi dianggap dapat menggantikan segalanya, mematikan rasa kita. Saat semua orang berlomba meng up date teknologi terbaru yang mungkin hanya sekedar ‘ikut-ikutan’. Sebuah nilai kehidupan yang sepertinya remeh sekali bukan? Maka kalian abaikanlah semua yang kecil da remeh ini, tanpa disadari bahwa semua berawal dari hal yang kecil. Saat kita sering dengan mudah mengurai kata ‘gagap teknologi kamu’ padahal tanpa disadari ‘teknologi telah membuat kita gagap akan hidup’.  


Jadi, jemputlah matahari saat pagi, peluk dan temuilah orang yang lama tidak kalian temui, sisihkanlah waktu sedikit dari jam kumpul-kumpul di kafe sambil browsing dengan mencoba kembali ke tempat bernama ’perpustakaan’. Karena, kadang kemudahan membuat kita melewatkan banyak hal yang sebenarnya berarti.

Namanya Tulus


Ci,akhirnya setelah berhari-hari saya coba mencari apa pentingnya dan hebatnya sebuah tulus sepertinya mulai ada pencerahan.

Tulus adalah sebuah kejujuran bukan ci? Ketika kamu lihat dia melakukan kesalahan maka kamu bilang dia salah tanpa takut melukai perasaanya karena kamu hanya ingin dia menjadi lebih baik. Tulus itu bukan topeng atau ‘make up’ yang menutupi wajah kita dari sebuah kealamian.

Tulus bukanlah sebuah trend, bukan begitu ci? Tidak tergantung sedang modelnya perempuan bergaya korea, model jilbab yang syalalala. Sedang model seperti apapun tulus itu akan selalu hadir. Tidak seperti mode yang tidak konsisten, sepantasnya ketulusan selalu ada dalam masing-masing diri kita.

Tulus bukanlah hal yang membuat kita menjadi tidak nyaman, bukan begitu ci? Tidak perlu berdandan cantik untuk dapat tulus. Tidak perlu bergaya feminim agar orang bisa merasakan kertulusan. Karena disitu kuncinya, ketulusan bukan dilihat tapi dirasa.

Tulus bukanlah hal yang mudah hilang, bukan begitu ci? Kecantikan wajah dapat memudar seiring umur, kalaupun ada itu hanyalah manipulasi alat-alat atau produk kecantikan yang menutupi kerut wajah. Kekayaan hanyalah sementara, ketika ada tangan Tuhan mengambil kembali milik-Nya manusia tidak punya kemampuan melawannya. Maka ketika manusia mengingat seseorang karena kekayaan dan kecantikan maka nasibnya hanya akan seperti itu, seiring waktu akan hilang, mereka layaknya variabel dependen dengan waktu sebagai variabel independennya sedangkan ketulusan terhadap seseorang akan selalu mengena.

Tulus adalah hal yang sulit dicari saat ini, bukan begitu ci? Saya tahu sekarang kenapa bisa begitu ci, karena akumulasi hal-hal di atas. Kita sendiri yang membuat tulus menjadi hal yang tidak bernilai. Ketika saat ini yang dianggap bernilai adalah yang tampak, yang nyata, yang visible.
Terimakasih ci membuat saya berfikir cukup lama, akhirnya saya dapat jawabannya.


*Dedicated to Yenny Prasaja, sebuah obrolan saat jalan kaki perpus pusat-stasiun pondok Cina

Senin, 19 Maret 2012

Semacam surat Terbuka

Sebenarnya saya bingung hendak menyampaikan ini kepada siapa, mengingat siapa saya yang suaranya akan didengar. Maka saya putuskan membuat surat terbuka saja, bukan bermaksud provokasi tetapi saya harap ada suara teman-teman yang memiliki pemikiran lebih jernih untuk meredam pikiran yang terlalu berontak ini.

Sebuah kekecewaan atas perjalanan bolak-balik yang menghabiskan waktu hingga kurang lebih 4 jam dengan tujuan menuntut ilmu tetapi yang saya temui kelas yang kosong, dengan AC yang sangat dingin entah untuk mendinginkan siapa dan muka melongo teman-teman yang sama-sama heran karena ternyata kuliah KOSONG.

Awalnya saya maklum, satu kali dua kali hingga puncaknya hampir mid semester masih ada saja dosen yang baru memberi kuliah satu kali dan embel-embel tidak kuliah karena rapat atau sibuk.

Aneh ya, ketika jadwal begitu apiknya tercantum di portal akademik yang sebegitu canggihnya membuat orang berdecak kagum dengan semua yang sepertinya tertata apik, ternyata itu semua hanya pemanis sebuah sistem. Ingat betul saya dulu kuliah jadwal harus fotokopi sendiri di TU serba manual, tapi yang jelas kertas-kertas yang saya fotokopi itu tidak memberi janji palsu.

Bilang saja ada rapat maka semua masalah akan beres, kuliah ditiadakan karena rapat satu kali dua kali dan akhirnya berkali-kali. Baru paham saya ternyata buat orang-orang di kota besar ini, esensi tenaga pendidikan adalah rapat bukan mengajar. Semacam orang DPR yang rapat, jadi janganlah suka protes yang bilang kerjaan DPR rapat terus, tidak jadi orang DPR saja rapat terus.

Saya sibuk ada kerjaan lain, jadi konsultan, ketemu pengusaha obat, yang jelas bukan jualan pulsa karena untungnya sedikit dan tidak memakan waktu. Bukan begitu?Pa, kasian saya dengan nasib para dosen seperti ini, mereka bilang mungkin mana bisa hidup dari gaji sebagai dosen. Bohong itu semua, perkenalkanlah bapak saya, usia 56 tahun, tulang punggung keluaga, istri seorang ibu rumah tangga, 4 anak 2 anaknya sedang disekolahkan S2  bisa dia hidup dari mengajar. Menjadi dosen adalah sebuah pilihan, pilihan untuk pengabdian bukan pilihan untuk meraup uang atau cari gengsi. Katanya mereka malu masa jadi dosen ga naik mobil,  bapak saya malah naik motor bahkan di usianya yang lanjut, sekalinya naik mobil ya naik angkot dan bus, sama seperti yang lain berdesak-desakan dan bau keringat.

Sungguh saya sangat berharap ketika para pengajar yang telah sekolah bertahun-tahun di luar negeri, yang katanya suasana belajarnya sangat disiplin, tepat waktu, dan tenaga pengajar yang sangat membantu maka ketika mereka kembali ke Indonesia ada banyak sikap baik yang akan mereka tiru dan tularkan kepada kami. Sayangnya, beasiswa yang mereka dapat mungkin hanya dimanfaatkan untuk meraih gelar atau posisi yang lebih dihargai. Sampai Indonesia mereka cetaklah prototype individu  yang suka datang telat, suka membatalkan janji, tidak disiplin.

Well perlu saya ingatkan, saya sangat respect dengan dosen2 ketika saya kuliah sarjana dan profesi karena mereka mengerti apa itu PRIORITAS. Mereka tidak malu naik becak, naik motor, atau bahkan jalan kaki. Sebuah nilai kesederhanaan yang patut ditiru sebagai contoh tenaga pendidik. Mereka buat aturan yang membuat mahasiswanya dan dirinya sendiri disiplin. Ingatlah pak bu, kalian adalah panutan, bukan hanya ilmu tetapi juga bersikap.

Mereka bilang ini kuliah S2, saya bilang ini bukan kuliah S2 (jika terus seperti ini)tetapi semacam cara meraih gelar S2 entah itu dengan atau tanpa kuliah. This is it, potret pendidikan Indonesia, ketika sebuah pendidikan menjadi business oriented.

Bagaimanapun ini sudah jadi pilihan saya, kamu, dan kita sekarang tinggal bagaimana menjadikan diri bukan sebagai korban sebuah sistem tapi ikut mengambil kendali dari sistem tersebut.

Sabtu, 05 November 2011

Yang Terlupakan


Mas X dan Mbak Y, bekerja di sebuah instansi pemerintah, sering ke luar kota, bekerja kadang sampai sabtu, gajinya cukup (cukup untuk beli rumah, beli motor, beli semua yang diinginkan) tapi mereka sering mengeluh entah di jejaring sosial atau rekannya bahwa mereka lelah kerja senin-sabtu. Belum lihat mereka seperti apa ayah saya, mbak mas, ayah saya bekerja senin-minggu, full time lho, saat pulang rumah ayah tidak bisa langsung istirahat, seringkali mahasiswa datang untuk bimbingan skripsi, mencari bahan untuk mengajar karena hukumnya bahwa dosen harus lebih tau.hehe. Gajinya cukup (cukup untuk makan dan sekolah anaknya). Tapi ayah tidak pernah mengeluh capek kerja senin-minggu. Buat ayah pekerjaannya sangat menyenangkan walaupun gajinya tidak sebesar mas X dan mbak Y.


Anak S lahir dari ayah dan ibu yang bisa dibilang terlalu cukup. Hidup sehat selama mengandung, bahkan sering mengikuti anjuran dokter seperti makan seafood agar anak pintar. Nyatanya saat lahir dan beranjak dewasa anak S didiagnosa mengidap autis. Anak M lahir dari sepasang orangtua yang cukup (entahlah setelah ada bencana di kota Y), jangankan mau ingat makan seafood, saat-saat melahirkan saja harus tinggal di pengungsian, tapi Alhamdulillah anaknya sampai sekarang sehat.


Bapak X, koruptor yang kaya raya katanya sih sering beramal juga  seperti memberi sumbangan untuk mesjid tapi jarang shalat di mesjid yang disumbang itu. Mungkin kalau ada jasa untuk menggantikan dia beramal dia pakai juga jasa itu, buat menggantikan dia shalat wajib, untung-untung shalat duha juga biar pintu rizkinya kian terbuka lebar maklum kalau rapat sering ga sempat shalat. Bapak C seorang merbot (biasa bersih-bersih mushala dan jaga kebersihan mesjid, dia juga yang sering azan mengingatkan orang-orang yang sok amnesia terhadap Tuhan) kerja di pabrik juga gajinya bisa lah buat makan sehari-hari, yang jelas halal tanpa korupsi, jangankan inget korupsi milyaran mau bawa kabur barang dari pabrik yang nilainya Cuma sekian ribu saja dia merasa dosa seluruh alam ditanggungnya karena ia tahu mencuri besar atau kecil adalah sesuatu yang haram. Suatu saat mereka berdua pasti kembali ke sang Maha Pemilik. Saya percaya bahwa Tuhan tidak dapat disuap dengan uang karena seluruh alam ini milik-Nya, maka Ia tidak perlu uang.

“Adalah kenyataan bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan, surga dan garis kehidupan yang ditulis oleh Tuhan”

Rabu, 19 Oktober 2011

Drei Jahre

Atau dengan kata lain 3 tahun. Tahun ke 3 kebersamaan sebagai pacar, tidak ada yang patut dibanggakan, baru juga pacaran. Tahun ke 3 kebersamaan sebagai ‘keluarga’ .Saya lebih senang menyebutnya
Semua yang dekat dengan saya, mama, papa, mbak dan yang lain2 memang dianggap sebagai keluarga. Sama seperti mama menganggap anak pada fira, erna, dan Nia. Setiap akan ke Yogya mama yang selalu repot beliin makaroni panggang atau aple pie.

Tahun ke 3 yang bisa dibilang wahhh..

Menjenguk Bulek
Kunjungan lumayan lama, nengok bulek yang habis operasi kanker. Saat itu saya ga di Bogor&sebenarnya saya ga yakin kamu mau nengok kalau ga ada saya. Ternyata kamu berangkat juga. Saya tahu kunjungan kamu berarti banget buat bulek, karena setelah kamu datang bulek langsung cerita ke saya. Saya rasa kamu ga cari muka karena kamu termasuk orang yang sangat amat malas buat cari muka.

Soetta-Adi Sutjipto
Saat itu saya sakit padahal harus ke yogya buat persiapan sumpahan apoteker. Papa mama percayakan saya sama kamu. Berkali-kali saya harus mengeluarkan isi perut saya di bandara (muntah) kamu sama sekali ga ngeluh. Kamu malah nantangin saya di atas pesawat, nanti plastik muntahnya dipake gantian ya, kita liat siapa yang muntah duluan(saya/dia).

Adi Sutjipto-RS Betesda
Sampai di Yogya kamu juga langsung menemani saya periksa di RS betesda sama tante juga. Kamu enggan pulang duluan, padahal saya tahu kamu ngantuk ditambah lamanya nunggu hasil lab. Malamnya kamu masih juga datang ke rumah bawakan saya mie aceh.

Graha Sabha Pramana
Saya tahu pasti kunjungan kamu ke yogya saat itu buat datang sumpahan saya. Nyatanya saya sakit, jadi saya langsung pulang diantar kamu(mama papa ke pemakaman mbah). Di saat orang foto-foto, saya minta cepat pulang karena keringat dingin. Jadi ga ada kenang-kenangan sama sekali, kamu saya dan buket bunga lili yang super duper. Konyolnya lagi, sampe rumah saya minta makan SS, akhirnya kamu beliin saya makan sementara saya makan, kamu Cuma diem karena kamu puasa ;P

Izin Kerja
Karena saya masih harus kontrol kamu ganti jadwal penerbangan pulang ke jakarta, kamu cancel tiket hanya gara-gara kamu mau nemenin saya, padahal hari itu saya juga udah ditemenin mama *,*

Ibu dan Nita
Selama saya sakit hampir tiap hari ibu nelpon saya (2 hari sekali)sekedar nanya kabar atau mengingatkan makan. Belum lagi adek mas yang menemani saya sms juga nengok di hari pertama saya sampai Yogya

Kebaikan-kebaikan yang terlihat kecil (mungkin buat kamu)tapi berarti banget buat saya. Entah nantinya kamu akan menjadi siapa saya, tapi saya ucapkan terimakasih atas semua perasaan ini. Bukan cinta gombal-gombalan, ini perasaan nyaman berada di antara kalian (bukan hanya kamu).

Seringkali kita melihat kesalahan-kesalahan yang kecil dan melupakan banyak kebaikan besar. Maafkan saya untuk hal-hal itu. Selamat tahun ke 3.. J Danke schoon fuur alles.

Sabtu, 24 September 2011

Kutipan Si Mas Entah Darimana


Sebelumnya saya mau minta maaf karena mempublish isi message kamu yang sebenarnya saya juga ga tau mengutip darimana (karena kamu bilang rahasia)tapi yang pasti saya yakin kamu mengutipnya karena kamu ga suka nulis.Beginilah isi message kamu.

Percakapan si A dan si B :
A : Aku tdk menyukai istriku lg !
B : Pulang dan cintailah dia
A : Anda tdk mengerti aku, aku sdh tdk punya perasaan itu lg.
B : Pulang dan cintailah dia
A : Tetapi scr emosi aku berarti tdk jujur kalau aku memperlakukan istriku spt itu, pdhl aku tdk merasakannya.
B : Apakah menurutmu Ibumu mencintaimu?
A : Tentu saja (dg mantap)
B : Kira2 1 minggu stlh ibumu plg dr RS & membawamu plg, dan kamu menangis menjerit2 di tengah mlm krn popokmu basah dan dia terpaksa bangun walau tubuhnya masih sangat letih, berjalan di lantai yg dingin tanpa alas kaki utk mengganti popokmu dan menyusuimu. Apakah menurutmu dia sungguh2 menikmati itu semua?
A : Tidak (menunduk)
B : Kalau bgtu, Apakah Ibumu secara emosi jg tidak jujur?
Ukuran besarnya cinta bukan krn dia menikmati mengganti popok di tengah mlm, melainkan krn ibumu RELA melakukan itu semua meski dia tdk begitu menyukainya.
Pernikahan tdk hanya didasari perasaan Cinta, lbh dari itu yaitu KOMITMEN.
Saat pertama seseorg menikahi istrinya pasti krn cinta, ttp cinta yg menggebu2 akan padam seiring dg berjalannya WAKTU
Hanya KOMITMEN yg membuat Cinta manggebu2 mjadi Cinta yg matang dan dewasa
Lalu.. apa yg disebut dg Cinta Sejati ?? Cinta sejati adalah cinta yg tdk memikirkan untung rugi, cinta yg rela berkorban demi seseorg yg dikasihinya. Inilah cinta yg hrs diusahakan dlm setiap Pernikahan.
Ada org berkata "aku cinta kamu".. berarti : "aku ingin memilikimu & biarlah km kumiliki" adlh cinta yg "egois" krn hnya bgantung pd perasaan seseorg. Sebab perasaan akan dimakan oleh wkt dan bisa saja perasaan ini muncul pd diri org lain.
Suasana hati mudah brubah, kondisi fisik smakin tua dan tdk menarik, KOMITMENlah yg menyelamatkan pernikahan.
Berani melakukan "tindakan" baik dlm keadaan suka maupun tdk utk mengasihi pasangan & mempertahankan Pernikahan yg telah Tuhan anugrahkan.

Saya mencoba menyederhanakan ceritamu yang cukup panjang dan sedikit romantis..haha. Dan seperti yang saya tuliskan di comment fb, seperti mama papa dan seperti ibu bapak. Yaa dan seperti pasangan suami istri lainnya yang bertahan demi komitmen.

Poin penting sebenarnya yang tersembunyi dari cerita itu adalah, terimakasih untuk bapak dan ibu mu dan mama papa saya. Subhanallah sekali perjuangan yang mereka lakukan. Mereka mencoba jadi teladan bagi kita, anak-anaknya dan mencoba menjauhi hal yang dibenci oleh Allah yaitu perceraian. Mungkin kita pernah melupakan untuk bersyukur bahwa kita merasakan berada pada keluarga yang utuh sampai saat ini, tidak ada kehilangan figure seorang ibu maupun ayah. Tahu sendiri lah saat ini banyak pasangan suami istri yang berakhir hanya karena alasan ga cocok atau ga cinta.

Hemmm...salut untuk mama papa dan juga bapak ibumu. Saya juga ga tau bagaimana bisa mama menghadapi papa yang berpikiran terlalu ala ‘scientist’ atau papa menghadapi mama yang terlalu keras kepala, yang jelas saya yakin mereka berjuang keras demi komitmen seperti cerita itu dan demi anak-anak mereka, karena mereka tahu kepada siapa lagi anak akan mencontoh kalau bukan ke orang tuanya.

Seperti saya bilang di sms, jangan pernah terlalu mencintai saya, saya lupa bla bla nya. Tapi intinya saya takut ketika kamu terlalu mencintai saya atau sebaliknya kita lupa bahwa cinta yang terlalu ini seharusnya milik sang Maha Pemilik Kehidupan. Sepertinya komitmen bisa jadi alasan yang lebih tepat untuk sebuah hubungan.

Terimakasih untuk ceritanya, lain kali kirim lagi saya cerita seperti itu biar saya mencoba berfikir menggunakan akal dan hati saya :) Dan Terimaksih untuk cerita yang membuat saya belajar sebelum saya melangkah ke jenjang ‘itu’